Advertise

Kamis, 13 Mei 2021

IBNU SINA (BAPAK ILMU KEDOKTERAN MODERN)

           


Sejarah membuktikan, zaman keemasan kerap dibarengi dengan kemajuan dibidang sains, matematika, dan teknologi. Begitu juga peradaban islam yang pernah berjaya, umat islam mendominasi dan menelurkan penemuan-penemuan yang menakjubkan dan membuka cakrawala dunia sains.

Namun sayang, masyarakat lebih akrab dengan para ilmuwan Barat daripada para Ilmuwan Muslim. Karya Fenomenal ilmuwan Muslim hanya menjadi gambaran romantisme sejarah dan umat islam saat ini belum menemkan wujud jatinya sebagai penggerak peradaban sebagaimana beberapa abad lalu.
Kini, umat islam hanya bisa disuguhi karya-karya Barat yang kering dengan ruh spiritual. Sudah saaatnya masyarakat dikenalkan kepada mereka yang sesungguhnya telah mengubah perdaban dunia melalui karya-karyanya. Salah satunya adalah Ibn Sina yang lebih dikenal oleh masyrakat eropa dengan sebutan Avicenna.
            Sejak kecil, Ibnu Sina yang dikenal sebagai bapak pengobatan modern ini sudah mahir dalam pengobatan. Belum genap berusia 16 tahn, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah dikenal banyak orang, serta banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Bahkan ia membuka prakten dan mengobati orang-orang yang sedang sakit.
            Ia juga tidak pernah bosan membaca buku-buku filsafat. Setiap kali menghadapi kesulitan, ia memohon petunjuk kepada Allah SWT. Ia juga sering tertidur karena kepayahan membaca, di dalam tidurnya itu dilihatnya pemecahan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.
Sewaktu seusia 17 tahun, atas panggilan istana, ia pernah mengobati Pangeran Nuh Ibn Mansur sampai pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibn Sina mendapat sambutan baik dan dapat mengnjungi perpustakaan yang penuh dengan bku-buku yang sukar didapat. Kemudian membaca dengan segala keasyikannya.
Dalam bidang materia medeica, ibnu sina telah banyak menemkan bahan nabati baru zanthoxyllum budrunga yang dapat menyembuhlkan beberapa penyakit tertentu, seperti radang selaput otak (meningitis). Ibnu Sina adalah orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, baru 600 tahun kemudian disempurnakan oleh Wiliam Harvey.
Dia pulalah yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya. Dia jugalah yang mula-mula mempraktelkkan pembedahan penyakit-penyakit bengkak yang ganas dan menjahitnya. Dan dia juga terkenal sebagai dokter ahli jiwa dengan cara-cara modern yang kini disebut psikoterapi.
Sekali pun hidup dalam waktu penh kegncangan dan sering sibuk dengan soal negara, tapi ia mampu menulis sekitar 250 judul bku. Diantaranya karya yang paling masyhur adlah al-Qanun. Kitab ini mengupas kaidah-kaidah mum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit.
Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab al-Qann diterjemahkan kedalam bahas latin. Kini, buku tersebut jga telah diterjemahkan kedalam bahasa inggris, pwerancis, dan Jerman. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas eropa.

Karya kedanya adalah ensiklopedia Kitab Asy-Syifa, karya ini merupakan titik puncak filsafat peripatetik dalm islam. Selain menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa Persia.

Senin, 04 Januari 2021

KEHIDUPAN ADALAH AMANAH

 

Tanggungan yang paling berat di dunia adalah amanah. Di dalam surah Al Ahzab ayat 72, dijelaskan bahwa sesungguhnya Allah menawarkan amanah kepada langit, bumi serta gunung-gunung. Namun, semua menolak karena mengetahui bahwa sebuah amanah adalah tanggungan yang berat. Namun, saat manusia menerima amanah, mereka justru menzalimi dan mengkhianatinya.
Tidak semua orang mampu menjalankan amanah dengan baik. Amanah merupakan tanggung jawab yang besar yang diberikan kepada orang lain terhadap dirinya sendiri. Bukan hanya orang lain saja, namun Allah SWT juga memberikan tanggungan terhadap manusia atas segala perintah-perintahnya. Karena amanah merupakan tanggung jawab, pesan, atau tindakan yang harus dilakukan dan dijaga dengan sebaik-baiknya.
Lingkup amanah tidak hanya pada sekedar jabatan. Sebagaimana banyak yang hanya  memaknai arti amanah pada orang yang dapat mengemban jabatannya dengan baik. Namun, amanah juga terdapat bagaimana seseorang mampu menjalankan amanahnya terhadap perintah Allah SWT, amanah terhadap harta bendanya, amanah terhadap dirinya, amanah dalam perilakunya bahkan amanah terhdap dirinya sendiri dan sebagainya.
Orang dikatakan tidak beriman apabila belum dapat menjalankan amanahnya dengan baik. Orang yang beramanah, hendaklah ia juga menunaikan amanahnya atas  perintah Allah SWT. Beribadah, menjalankan syariat-syariat islam, berbuat baik, berakhlak mulia dam sebagainya. Begitu beratnya kedudukan amanah dalam islam Rasulullah SAW sampai membandingkan antara amanah dengan keimannan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadisnya.
عن أَنس بن مالك قال ما خطب نا نبيّ الله صلَّى اللَه عليه وسلَّم إلاّ قال :لا إِيمان لمن لا أَمانة له ولادين لمن لا عهدله  (رواه أحمد)
Dari Anas bin Malik ra berkata; Nabi saw menyatakan: “Tidaklah beriman seseorang apabila ia tidak dapat memegang amanah, dan tidaklah beragama seseorang apabila tidak memegang janji” (H.R. Ahmad)
Amanah merupakan pondasi besar dalam realisasi manusia terhadap umat yang lain. Suatu negara akan hancur apabila para pemimpinnya tidak beramanah lagi, bahkan suatu hadis meriwayatkan bahwa salah satu munculnya tanda kiamat adalah hilangnya amanah dari sifat manusia. Dan banyaknya orang-orang-orang yang suka berkhianat diberi kepercayaan.

Sabtu, 01 Agustus 2020

BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN SYAMSUDDIN AS-SUMATRANI DALAM DUNIA TASAWUF

 


A. Riwayat Hidup
Nama lengkapnya adalah al-Syaikh Syamsuddin ibn ‘Abdullah as-Sumatrani, tetapi sering juga disebut Syamsuddin Pasai.[1] Merupakan ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasawarsa terakhir abad ke-16 dan tiga dasawarsa pertama abad ke-17. beliau menjadi mufti serta penasihat Sultan Iskandar Muda, seorang pembesar dan penghulu agama, dan ada juga yang menyebutkan bahwa beliau adalah seorang syeikh terkemuka yang berada di lingkungan kerajaan Aceh Darussalam.[2]
Menurut sebagian sejarawan, penisbahan namanya dengan sebutan sumatrani ataupun pasai mengisyaratkan adanya dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, orang tuanya adalah orang Pasai (Sumatra). Dengan demikian, dapat diduga bahwa ia lahir dan dibesarkan di Pasai.
Jikalau tidak lahir di Pasai, maka hal ini merujuk pada kemungkinan yang kedua. Yaitu ulama tersebut merupakan ulama yang paling terkemuka dan telah lama menetap di Pasai, bahkan ia meninggal dan di kuburkan disana.[3]
Kedudukan Syamsuddin sebagai pembesar kerajaan bukanlah semata-mata karena hadiah dari raja.[4] Namun, menurut hikayat aceh, diangkatnya Syamsduddin as Sumatrani disebabkan oleh pengetahuannya yang luas dan pemikirannya yang tajam.
Syamsuddin al-sumatrani ialah murid dan sahabat Hamzah Fansuri yang mengkaji insan kamil melalui pemikirannya tentang martabat tujuh, karena hal ini lah ia mendapat kecaman dari al-Raniri.[5] Selain itu, ia juga meneruskan ajaran tentang wujudiyah yang pernah di kembangkan oleh Hamzah Fansuri.[6]  Namun, martabat tujuh inilah yang membedakan anatarn Syamsuddin dengan gurunya, karena tidak ditemukan pada ajaran Hamzah Fansuri.[7]
Menurut sumber-sumber yang ada, tidak diketahui dengan jelas kapan dan dimana Syamsuddin as-Sumatrani dilahirkan. Dalam buku Bustanul Salatin karya Nuruddin ar-Raniri hanya diperoleh penjelasan bahwa Syamsuddin as-Sumatrani wafat pada hari ke-12 bulan Rajab tahun 1039 H/1630 M. Dan hingga saat ini, letak jenazah Syamsuddin dimakamkan masih belum ditemukan.[8]
Disisi lain, Syamsuddin juga mendapat pertentangan dari ulama yang lain. Yang pertama kali mengecam adalah Nuruddin ar-raniri. Seorang ulama besar dan syeikh tarekat Rifaiah di India yang merantau dan kemudian menetap di Aceh.[9] Nuruddin al-raniri menyatakan bahwa ajaran Syamsuddin sejalan dengan Hamzah Fansuri, dan kemudian ia dijadikan musuh bersama oleh para pengikut Nuruddin al-Raniri.[10]
Kecaman dari Nuruddin berakhir buruk terhadap ajaran Syamsudin as Sumatrani.[11] Karena, seluruh ajaran dan karya Syamsuddin dibakar habis olehnya. Tidak hanya itu, Nuruddin berhasil membujuk Sultan Iskandar Tsani, sehingga ia meemerintahkan kepada seluruh rakyatnya agar meninggalkan ajaran Syamsuddin dan Nuruddin yang dinilai sesat.
B. Karya-Karya Syamsuddin as-Sumatrani
Karya-karya milik Syamsuddin as-Sumatrani ada yang ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Melayu (jawi), diantaranya adalah: Jawhar al-Haqa’iq, merupakan karyanya yang paling lengkap. Syamsuddin menulis tentang martabat tujuh dan jalan agar lebih dekat kepada Allah.[12]
Kitab ini berjumlah sebanyak 30 halaman dan pernah disunting oleh Van Niewenhujize, seoramg sarjana Belanda yang pernah melakukan penelitian terhadap Syamsuddin as Sumatrani. Selain itu, kitab ini merupakan kitab terlengkap yang menjelaskan konsep tentang martabat tujuh. Dan menjelaskan tentang konsep tentang tasawwufnya.
Risalah Tubayyin Mulahazhat al-Muwhhidin wa al-Mulhidin fi Dzikr Allah, yang berjumlah sebanyak 9 halaman menggunakan bahasa Arab. Buku ini menjelaskan perbedaan antara kaum mulhid dan perbedaan yang bukan mulhid.
Mir’at al-Mu’minin yang berjumlah sebanyak 70 halaman. Karya ini menjelaskan tentang keimanan kepada Allah SWT. Para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhirat, dan kadar-Nya. Dalam karya ini dijelaskan mengenai butir-butir aqidah, sejalan dengan faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tepatnya pada Asy’ariah-Sanusiah.
Syarah Ruba’I Hamzah Fansuri, berjumlah 24 halaman. Karya ini berisi tentang ulasan terhadap 39 bait atau 156 baris, syair Hamzah Fansuri. Isinya menjelaskan tentang pengertian kesatuan wujud (wahdat al-wujud). Karya ini bukti yang cukup kuat bahwa Syamsuddin as-Sumatrani adalah penyambung aktivis dna bertanggung jawab menyebarkan ajaran agama gurunya Hamzah Fansuri.[13]
Nur al-Dawa’iq, berjumlah 9 halaman berbahasa Arab dan 19 halaman berbahasa Melayu. Karya ini menjelaskan tentang rasahia Ilmu Ma’rifah atau martabat tujuh.
Thariq al-Salikin, berjumlah 18 halaman dan berbahasa Melayu. Karya ini mengandung penjelasan tentang sejumlah istilah, seperti wujud, ‘adam, haqq, bathil, wajib, mumkin, mumtani’ dan sebagainya.
Mir’at al-Iman atau Kitab Bahr al-Nur berjumlah 12 halaman, berbahasa Melayu). Karya ini berbicara tentang ma’rifah, martabat tujuh dan tentang roh. Kitab al-Harakah 4 halaman, ada yang berbahasa Arab dan ada pula yang berbahasa Melayu. Karya ini berbicara tentang ma’rifah atau martabat tujuh.[14]
D. Kesimpulan
Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani adalah seorang ulama besar Aceh yang hidup pada Abad ke-16 dan ke-17 Masehi. Beliau merupakan murid dari seorang Ulama yang dikenal dengan nama Hamzah al-Fansuri. Meskipun secara pasti tidak diketahui kelahiran beliau namun dari namanya menunjukkan bahwa beliau merupakan Ulama yang berasal dari Pasai (Aceh).
Syamsuddin mendapat kecaman dari Nuruddin ar Raniri, karena dinilai ajaran yang disebarkan olehnya dinilai sesat. Bahkan seluruh hasil karyanya di bakar habis.

DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi, Ensikopedi Tasawuf, (Penerbit Angkasa : Bandung, 2008)
Firdaus, Meretas Jejak Sufisme di Nusantara, Jurnal Al_Adyan, Volume 13, No. 2, Juli-Desember 2018
Hadi, Arki Aulia, Perkembangan Awal Islam di Nusantara dan Wacana Sifistik Tasawuf Falsafi Pada Abad 17, Journal of Islamic Studies, Vol. 03, No. 01 Januari-Juni 2019.
Kharlie, Ahmad Tholabi, Pergumulan Pemikiran Mistiko Filosofi di Nusantara Abad 16-18 M, (Jurnal Qalam, Vol. 23 No.2 (Mei-Agustus 2006).)
Suwondo, Tirto, Syamsuddin As-Sumatrani (Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya), Jurnal Pengkajian dan Penelitian Sastera Asia Tenggara, Juli-Desember 1998, Bilangan 7/Jilid 4.
Syahid, Ahmad, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia (Tradisi, Intelektual, dan Sosial, (Penerbit Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan : Jakarta, 2015.



[1]Azyumardi Azra, Ensikopedi Tasawuf, (Penerbit Angkasa : Bandung, 2008), h. 1200
[2]Tirto Suwondo, Syamsuddin As-Sumatrani; Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya, dalam Jurnal Pengkajian dan Penelitian Sastera Asia Tenggara, (Juli-Desember 1998), 50.
[3] Firdaus, Meretas Jejak Sufisme di Nusantara, dalam Jurnal Al-Adyan , Volume 13, No. 2, (Juli-Desember 2018), 11.
[4] Tirto Suwondo, Syamsuddin As-Sumatrani; Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya,… Hal. 49
[5]Ahmad Tholabi Kharlie, Pergumulan Pemikiran Mistiko Filosofi di Nusantara Abad 16-18 M, dalam Jurnal Qalam, Vol. 23 No.2 (Mei-Agustus 2006).) Hal. 232
[6]Arki Aulia Hadi, Perkembangan Awal Islam di Nusantara dan Wacana Sifistik Tasawuf Falsafi Pada Abad 17, dalam Journal of Islamic Studies, Vol. 03, No. 01 (Januari-Juni 2019). Hal. 7
[7] Arki Aulia Hadi, Perkembangan Awal Islam di Nusantara dan Wacana Sifistik Tasawuf Falsafi Pada Abad 17,… hal 8
[8] Tirto Suwondo, Syamsuddin As-Sumatrani; Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya,… Hal. 50.
[9] Tirto Suwondo, Syamsuddin As-Sumatrani; Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya, … Hal. 55
[10] Ahmad Tholabi Kharlie, Pergumulan Pemikiran Mistiko Filosofi di Nusantara Abad 16-18 M…., Hal. 233
[11] Tirto Suwondo, Syamsuddin As-Sumatrani; Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya,… Hal. 55.
[12]Ahmad Syahid, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia (Tradisi, Intelektual, dan Sosial, (Penerbit Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan : Jakarta, 2015) Hal. 85.
[13]Tirto Suwondo, Syamsuddin As-Sumatrani; Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya …, Hal. 51
[14]Ahmad Syahid, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia (Tradisi, Intelektual, dan Sosial)..., Hal. 85.

Selasa, 04 Februari 2020

Rindu 1

 Bukan maksud hati ini tak ingin menengok sedetik saja, bukan pula maksud hati ini untuk tidak menorehkan beberapa tetes tinta diatas lembaran putih yang begitu bersih dan polos. Bukan pula, hati ini tega untuk membiarkan lembaran-lembaran itu terhempus begitu saja. Aku rindu. Rindu, rindu untuk mengulangnya kembali. Rindu untuk melakukan lagi, membiarkan tangan ini menulis bebas diatas lembaran kosong yang belum terpenuhi apa-apa. Rindu untuk menuangkan akan ide dan perasaan yang tersimpan tertumpuk penuh di dalam benak ini.

Rindu, satu kata yang kembali menguatkan hati ini untuk kembali tergerak dalam melakukan hal itu. Membangkitkan asa yang telah lama hilang, namun masih terharapkan. Masih adakah waktu yang terbagi untukku, agar tak sedikitpun kata terlambat kudengar bahkan kualami.
Ingin kugapai hal itu kembali, meski adanya keterbatasan waktu yang menghambat, meski sulit untuk menggapainya. Bukanhkah setiap orang mempunyai hak bermimpi?.


#Be Besr

Kamis, 07 November 2019

SEMUT DAN TEKNOLOGI MODERN

 


Tahun dua ribu enam ratus masehi, saat kecerdasan manusia diatas rata-rata. Serta, tekhnologi canggih menjadi andalan para makhluk hidup di Bumi.
Asap hitam mengepul hampir disetiap sudut kota, memenuhi langit-langit udara yang terlihat terik karena sengatan matahari yang menyilaukan. Suara bising terdengar memekakan telinga, membuat orang enggan untuk melangkahkan kakinya keluar rumah. Bau tak sedap pun tercium dimana-mana, membuat rasa mati hidung saat orang mencium baunya. Entah, darimana bau ini berasal. Para khalifah bumi dan semut-semut berlalu hilir mudik, menyibukkan diri mereka untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papannya.
Sekian orang sudah membuka tokonya sejak pagi buta, mengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan hdup yang semakin tinggi tarif harga didunia. Uang tak lagi laku di zaman ini, semua transaksi dilakukan secara otomatis, melalui data yang berada disetiap tablepad canggih, yang kini dimiliki setiap orang. Bahkan jika ingin memberi uang terhadap pengemis pun, tinggal menentukan berapa tarif yang akan diberikan. Maka, nominal pada tablepad milik pengemis pun akan bertambah secara otomatis. Begitu pula, saat menaiki kendaraan umum, hanya cukup dengan menyamakan kode, lalu mentransfer nominal yang dibutuhkan pada tablepad milik kendaraan umum tersebut.
Kulirik jam digitalku sesaat, hari semakin terik. Padahal, waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, namun, matahari sudah serasa membakar ubun-ubun di kepala ini. dengan sigap aku menaiki XP-eight milikku. Ya, XP-eight sejenis mobil layang yang beroperasi diudara dengan berbahan bakar oli dan campuran bahan kimia lainnya. Manusia dan semut atau Ma-Ant tidak perlu lagi susah-susah melakukan aktivitas padatnya, hanya berbicara dengan remote control tombol maka semua akan terlaksana secara otomoatis, ya maklum saja kabel-kabel transparan menjalar di setiap rumah dan jalan-jalan besar.
Dengan berkembangnya tekhnologi yang canggih, manusia menjadi lebih sering di rumah. Mengerjakan segala pekerjaannya dengan mudah dan praktis. Manusia, yang memang memiliki watak yang tamak, keras dan egois pun menjadi berlomba-lomba menciptakan tekhnologi yang lebih canggih. Spesies Ma-Ant pun tak kalah saingnya dengan para manusia, hanya saja, menurutku mereka dapat mengatur segala keinginan yang mereka punya untuk kepentingan bersama, ya mereka terlihat lebih bijak ketimbang manusia sendiri.
“Pagi sekali berangkat sekolahnya,” seseorang menyapaku, aku sedikit terhentak, melihat kedatangan Chu tiba-tiba.
Aku menaikan alisku, sembari menyahut sapaannya, “Menghindari terik matahari yang semakin menyengat,” sahutku asal.
Chu hanya bersungut-sungut sambil beranjak pergi. Aku menatapnya nanar. Chu, ia adalah tetanggaku yang tinggal lebih dahulu dari keluargaku. Jangan kaget, Chu berasal dari keluarga semut. Entahlah, hingga detik ini, aku pun masih bertanya mengapa dunia ini bisa dihuni oleh dua makhluk yang berbeda, manusia dan semut. Banyak sejarahwan yang mengatakan bahwa semut bisa hidup bak layaknya manusia normal, diakibatkan oleh ulah ilmuwan sendiri yang mengalami kegagalan dalam penelitiannya.
Lima ratus tahun silam, seperti yang dikatakan banyak sejarahwan dan ilmuwan kelas dunia. Dunia terkena wabah berbahaya, gas kimia yang berasap putih tebal berhembus diseluruh penjuru dunia. Semua semut dengan berbagai spesies di dunia mengalami kepunahan, dan tidak menyisakan sedikit pun serangga dengan jenis semut di dunia ini, akhirnya dua puluh tahun kemudian, seorang ilmuwan sekaligus  peneliti dari Jepang, Mr. Xhin melakukan sebuah eksperimen yang mengejutkan dunia. Ia menyatakan akan membuat semut kembali hidup ditengah-tengah kehidupan manusia. Meskipun, banyak yang menentang dan tidak percaya lagi, setelah percobaannya menghidupkan gajah purba gagal. Ia bersikeras untuk membuktikan hasil dari percobaannya. Benar, lima tahun lebih melakukan usaha yang panjang, semut itu berhasil hidup. Ia mendapat pujian banyak orang. Meskipun, secara logika, struktur badan semut mungil dan sulit untuk memperbaikinya, bahkan memasuki sel-sel kedalam tubuhnya.
Tapi, ia tidak menyadari bahwa ada banyak kesalahan yang telah ia perbuat dan menyebabkan semut itu tumbuh dengan cepat, seperti ukuran manusia. Semut bak manusia itu yang kini dijuluki dengan Ma-Ant (MagicAnt) akhirnya berkembang pesat, dan disaat yang sama empat puluh persen manusia meninggal akibat gas racun yang dihirupnya. Membuat, populasi manusia tercampur dengan populasi semut yang berkembang biak dan hidup seperti manusia. Hal ini juga membuat banyak perselisihan dalam alur kehidupan.
Namun, setidaknya aku masih bersyukur melihat hubungan para manusia dengan Ma-Ant terlihat damai, dan seperti menghargai satu dengan yang lainnya. Meskipun, masih banyak perbedaan yang terlihat jelas dalam sifat, fisik, kebijaksanaan dan hal-hal lainnya. Bahkan, hal inilah yang akan mengancam Bumi dari peradaban dunia.
Aku merasakan dadaku sedikit sesak, mesin tubuhku memberi tahuku bahwa oksigen yang kusimpan akan segera habis. Aku berniat untuk membeli persedian oksigenku jika tidak, aku bisa mati terkapar saat itu juga.
Kuambil tombol kecil berbentuk bulat, sejenis remot yang mengontrol laju XP ini. “XP, menuju apotek,” ujarku terhadap remote control XP-eight. XP-eight melaju dengan kecepatan penuh, menuju apotik penjual oksigen.
Saat ini, oksigen bukan lagi hal gratis yang dihasilkan oleh pohon seperti 1 abad silam. Sebagaimana, buku ensiklopedia yang pernah kubaca, bahwa oksigen itu dihasilkan oleh pepohonan hijau dan gratis. Namun, sangat berbeda dengan zaman sekarang, oksigen didapatkan dengan tarif yang amat mahal, bahkan aku tidak pernah melihat pohon langsung dimasaku ini. Aktivitas tulis menulis dilakukan dengan layar transparan yang akan muncul dihadapan kita apabila kita menghendakinya.
Aku memakirkan XP-eight ku di atas gedung sekolah. Dengan rasa enggan dan malas, aku melangkahkan kakiku menuju kelas. Tanpa harus menggerakan kakiku, Copper Board, sejenis papan kecil melayang kerahku dan mengantarku ke kelas yang ku maksud. Zaman ini, semua manusia dan Ma-Ant berlomba-lomba untuk menyiptakan teknologi yang baru dan canggih, tanpa berpikir bahwa hampir segala alat yang diciptakan itu membuat manusia semakin malas untuk bergerak dan beraktivitas. Ilmuwan dan tokoh besar sekarang, mana ada yang ingin mempedulikan keadaan dan msds depan manusia. Mereka, hanya berlomba-lomba menciptakan tekhnologi canggih untuk kepentingan materi dan ketenaran. Dengan ketamakannya, mereka membuat manusia menjadi makhluk yang malas, kerna hampir setiap pekerjaannya dibantu oleh alat dan tekhnologi yang canggih.
Dikelas, Yhun, si Ma-Ant menyapaku ramah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Pagi-pagi saja sudah malas,” ejeknya sambil berkacak pinggang.
Kelas masih terlihat sepi, hanya ada segelintir manusia dan Ma-Ant yang tampak sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Aku memainkan tablepad-ku dengan asal. Berita hari ini mengabarkan bahwa para Ma-Ant sedang menyimpan persedian makanan di Saturnus. Mereka memprediksi bahwa, tidak lama lagi bumi akan hancur terbakar akibat panas matahari yang semakin tidak kekontrol. Sementara, disaat yang sama para manusia sedang mencari solusi dan menciptakan alat untuk menahan sinar matahari yang masuk ke bumi.
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Masalah bumi semakin rumit, kemungkinan besar perang dunia antara manusia dan Ma-Ant akan kembali terjadi apabila mereka tidak memiliki keputusan yang sama. Manusia yang bersikeras dengan tekhnologi yang sedang dirancang untuk menghadapi bahaya matahari terhadap bumi. Sementara, para Ma-Ant yang menguatkan kerjasamanya dalam penimbunan bahan bakar dan pangan di Saturnus.
“Vi, coba kau perhatikan berita terbaru diacara ‘Hot News’” ujar Yhun serius.
Aku menuruti permintaannya, kualihkan konsentrasiku untuk mendengarkan kabar terbaru pagi ini. Sang pembaca berita menerangkan bahwa matahari mengalami kemajuan beberapa meter mendekati putaran poros bumi. Dengan demikian, ozon buatan tidak dapat lagi menjadi benteng pertahanan bumi. Aku menganga mendengarnya. Jika demikian, langkah apalagi yang akan dilakukan oleh ilmuwan dan peneliti untuk menyelamatkan bumi.
Keadaan kelas menjadi riuh, semua berhamburan. Yhun sedikit geram, saat ia masih melihat diriku masih duduk mematung di tempat. Aku mengernyitkan dahi, menandakan bahwa aku tidak memahami hal yang sedang terjadi. Bumi dan manusia sedang terancam, hanya kata itulah yang masih membekas dalam pikiranku setelah menonton berita terbaru pagi ini.
::::::
Dalam hitungan waktu, panas matahari semakin merajalela. Bersinar tak tentu waktu, membuat orang tersengat panas yang membakar apabila terkena sinar matahari secara langsung. Hari terus bergulir mengikuti zaman yang makin berkembang dengan segala kecanggihan tekhnologinya. Secara berangsung-angsur, para Ma-Ant mengungsi menuju Saturnus dengan pesawat andalannya. Mereka bergotong royong, bahkan saling bahu membahu membawakan barang yang akan dipindahkan ke Saturnus.
Aku sedikit heran melihat pemandangan yang sangat langka ini. dengan mudahnya dan tawa bahagianya, mereka dengan senang hati bergotong royong memindahkan segala barang dan cadangan bahan bakar serta makanannya ke tempat lain. Aku yang menyaksikan pandangan ini terkejut. Manusia saja, tidak akan pernah mau menolong antara satu dengan yang lainnya. Bagaimana para Ma-Ant itu dapat melakukannya dengan semudah itu.
Sementara, disaat yang sama sekolompok manusia dan Ma-Ant sedang mendebatkan solusi dari permasalahan rumit ini. Tak ada seorang pun yang mau mengalah, mereka saling berdebat menyatakan bahwa teknologi hasil temuannyalah yang pantas untuk menyelamatkan bumi. Hingga, pada akhirnya konferensi antar ilmuwan itu tidak menghasilkan sesuatu, justru membuat mereka menyimpan dendam dan rasa iri antara satu dengan yang lainnya. Mereka juga tidak setuju dengan ide para Ma-Ant yang akan memindahkan tempat kehidupan dan peradaban.
Tak lama, karena perdebatan semakin menjadi. Perang antar manusia dan Ma-Ant pun tak dapat dihindarkan. Mereka berniat menyingkirkan manusia yang telah membuat kekacauan dimuka bumi ini. hari yang ditentukan tiba, berbondong-bondong manusia dan Ma-Ant berhadapan untuk saling membunuh dan memusnahkan para manusia yang masih tersisa di muka Bumi. Mereka menganggap, manusia hanyalah makhluk kecil yang tak berdaya dan menrusak buumi dengan segala ulah dan tingkah laku yang telah mereka lakukan.
Aku berlari sekuat tenaga, mencari tempat perlindungan. Namun, aku hanya bisa pasrah, saat diriku terpojok di sudut gang.
“Liv, bangun! Tuh, kue mu dimakan semut! Makanya, jangan makan sambil tidur,” seseorang menggoyang-goyangkan tubuhku.
Mataku mengerjap-ngerjap, tiba-tiba aku berada di kamar. Mungkinkah, tadi aku pingsan saat diriku akan dibawa oleh Ma-Ant. Tapi ini dimana? Aku memperhatikan keadaan disekelilingku dengan seksama.
Aw! Aku menjerit pelan. Seekor semut merah menggigit lenganku. Aku hendak, mematikannya. Namun, bukankah itu tindakan yang kejam. Bukankah semut memberi banyak pelajran berharga bagi manusia. Untuk tidak tamak, dan egois, untuk selalu membantu dan menyapa antara satu dengan yang lainnya. Makhluk manalagi yang apabila bertemu dengan makhluk sesamanya, menyapa dan berpelukan hangat. Bukankah semut juga salah satu hewan yang keberadaannya sangat dihargai oleh Nabi Sulaiman.
Aku tersenyum sendiri, Milla terlihat bingung dengan tingkah lakuku.
“Kau tahu, aku tak bisa membayangkan saat tekhnologi semakin maju, dan manusia akans emakin malas untuk beranjak dari tempat duduknya. Bahkan, membuat manusia lupa akan fitrah dan tugasnya sebagai Khalifah Bumi,” ujarku bijak.

Rabu, 11 September 2019

RESENSI BUKU BERTUMBUH

 



Judul buku      : BERTUMBUH        
Penulis         :Satria Maulana, Kurniawan Gunadi, Iqbal Hariadi,                         Mutia Prawitasari, dan Novie Ocktaviane Mufti
Tebal Halaman: 250 Lembar
Terbit               : Tahun 2018
                          Sipnosis           :
Adakalanya manusia mengalami kesulitan dalam perjalanan hidupnya, termasuk dalam segi perubahan. Baik perubahan terhadap sifatnya, terhadap sikap, lingkungan, cara berpikir, terhadap orang lain dan sebagianya. Perubahan akan terus dirasakan selama hidup berlangsung, bahkan disaat manusia belum mempersiapkan perubahan yang akan dihadapinya. Karena perubahan bisa saja terjadi kapan pun, dan saat kita tengah melakukan aktivitas. Tak ada yang menyadari saat perubahan itu terjadi.
Waktu akan terus bergulir, mengikuti zaman yang terus bergerak maju. Tak ada sesuatu yang menetap di dunia ini. Semua akan mengalami pertumbuhan dan terus tumbuh. Bahkan berbagai perasaan sedih, bahagia dan sebgainya akan turut bertumbuh pula seiring berjalannya waktu.
Maka, ada kalanya manusia perlu memahami kepekaan diri, memetik pesan dan hikmah dari setiap kejadian yang dilaluinya,  bukan membiarkan setiap kejadian berlalu begitu saja tanpa arti. Namun, perlu disadari bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karunia-Nya yang telah dilimpahkan, agar manusia memahami arti ‘Bersyukur’.
Buku ini sangat cocok dibaca, untuk memahami serta memaknai bahwa setiap masa yang kita lalui bukan untuk diremehkan dan diabaikan namun untuk dipetik pelajaran dan hikmah. Pentingnya memaknai hakikat kehidupan dan pertumbuhan, agar kita tahu untuk apa kita tumbuh.

Jumat, 09 November 2018

INSPIRATOR

 #Part 1


‘Inspirator’, aku hanya sebagian kecil saja dari rangkaian cerita itu. Namun, aku merasa bahagia dan beharga disana. Karena, kata itu bukan hanya sekedar tulisan, maupun kata yang hanya melintas dengan cepat begitu saja. Namun, kata itu mengandung seribu makna dan arti  serta cerita yang tak akan habis oleh berjanlannya waktu.
            Ingatkah, saat kita mencoba menegnal antara satu dengan yang lain, saat kita saling mencoba untuk memahami sifat dan karakter antara kita.  Mencoba untuk mngerti dan memahami bahkan menyayangi. Ibarat tubuh saat satu diantara anggota tubuh yang sakit, semuanya merasakan. Itu\lah mereka satu diantaranya berrmasalah, semuanya pun merasakannya.
            431, anggota dengan berbagai kelebihan dan kekekurangan, sifat dan karakter, budaya. Anggota, dengan segala kegigihannya dan kesungguhan berjuang untuk menjadi inspiratory. Kini, mereka bertebangan ke seluruh penjuru sunia bertebangan bak kupu-kupu yang siap menghiasi dunia, setelah berjuang melawan berbagai kepahitannya.
            Allah tahu tempat untuk terbaik hambanya.