Advertise

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 September 2023

Kemuliaan Wanita Dalam Islam

rahmahathaillah.com - 04/08/2023 Islam, agama dengan lebih dari 1,8 miliar pengikut di seluruh dunia, sering kali dikritik dalam konteks hak-hak wanita. Namun, dalam pandangan yang lebih dalam, Islam sebenarnya menganjurkan kemuliaan, kesetaraan, dan perlakuan adil terhadap wanita. Artikel ini akan membahas bagaimana Islam memandang kemuliaan wanita, yang seringkali kurang dipahami dalam masyarakat.

1. Kesetaraan dalam Mata Allah:

Pertama-tama, Islam menyatakan dengan tegas bahwa di mata Allah, wanita dan pria memiliki nilai yang sama. Dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat (49:13) menyatakan, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa), dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." Ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang dalam Islam tidak bergantung pada jenis kelaminnya, melainkan pada ketakwaannya.

2. Hak-hak Wanita dalam Islam:

Islam memberikan hak-hak penting kepada wanita, seperti hak untuk memiliki, mewarisi, bekerja, berpendapat, dan berpendidikan. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, "Wanita adalah saudara seagama kita, dan ia memiliki hak yang wajar seperti yang kita miliki." Hak-hak ini mencakup hak untuk menikah dengan pilihan sendiri, hak untuk berpendidikan, dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

3. Perlindungan dan Harga Diri:

Dalam Islam, wanita diberikan perlindungan khusus dan dianggap sebagai amanah yang harus dijaga. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik dalam pergaulan kepada istrinya." Ini menekankan pentingnya perlakuan baik dan hormat terhadap wanita.

4. Kemuliaan dalam Peran Keluarga:

Islam mengakui peran penting wanita dalam keluarga. Wanita dianggap sebagai ibu, yang memiliki peran kunci dalam mendidik dan membentuk generasi mendatang. Rasulullah SAW bersabda, "Syurga ada di bawah telapak kaki ibu." Ini menekankan penghormatan yang seharusnya diberikan kepada wanita dalam peran ibu.

5. Contoh-contoh Kemuliaan Wanita dalam Islam:

Ada banyak contoh wanita mulia dalam sejarah Islam, seperti Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad SAW, yang merupakan seorang pedagang sukses dan pendukung awal Islam. Ada juga Aisha, istri Nabi yang dikenal sebagai ulama dan cendekiawan Islam. Ini membuktikan bahwa wanita dalam Islam tidak hanya memiliki hak, tetapi juga potensi untuk mencapai keunggulan dalam berbagai bidang.

Kesimpulan:

Dalam pandangan Islam, wanita diberikan kemuliaan dan hak yang setara dengan pria. Agama ini mengajarkan kesetaraan, keadilan, dan perlakuan baik terhadap wanita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami Islam dalam konteks yang benar, bukan berdasarkan stereotip atau misinterpretasi. Kemuliaan wanita dalam Islam adalah bagian integral dari ajaran agama yang harus dipahami dan dihormati dalam masyarakat modern yang semakin berkembang.

Sabtu, 02 September 2023

Mengapa Mempelajari Filsafat Penting di Era Modern?


Filsafat, sebuah disiplin ilmu yang telah ada sejak zaman kuno, seringkali dianggap sebagai sesuatu yang hanya relevan bagi para pemikir elit atau akademisi. Namun, dalam era modern yang gejolak dan berubah dengan cepat, mempelajari filsafat menjadi semakin penting bagi semua orang. Artikel ini akan menguraikan beberapa alasan mengapa memahami dan mempelajari filsafat dapat memberikan manfaat yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari kita.

1. Kemampuan Berpikir Kritis
Salah satu manfaat utama mempelajari filsafat adalah pengembangan kemampuan berpikir kritis. Filsafat mendorong kita untuk bertanya tentang akar penyebab suatu masalah, merenungkan implikasi dari suatu tindakan, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Dengan demikian, kita dapat mengembangkan kemampuan untuk memilah informasi, menganalisis argumen, dan mengambil keputusan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pemahaman Mendalam tentang Nilai dan Etika
Filsafat juga membantu kita memahami nilai-nilai dan etika yang membimbing kehidupan kita. Dalam dunia yang semakin kompleks dan seringkali bergejolak, memiliki landasan etika yang kuat menjadi sangat penting. Melalui filsafat, kita dapat menjalani refleksi mendalam tentang apa yang benar dan salah, serta memahami berbagai pandangan etika yang berbeda-beda.

3. Peningkatan Kemampuan Berkomunikasi
Studi filsafat juga dapat membantu kita menjadi komunikator yang lebih baik. Dalam pembelajaran filsafat, kita sering harus merumuskan argumen secara jelas dan logis serta mampu membela pandangan kita dengan bukti yang tepat. Kemampuan ini berguna dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam berdiskusi, negosiasi, dan bahkan dalam karier profesional.

4. Pengembangan Pemahaman tentang Dunia dan Kemanusiaan
Filsafat memungkinkan kita untuk menjelajahi pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang dunia dan kemanusiaan. Ini termasuk pertanyaan tentang eksistensi, tujuan hidup, dan makna kehidupan. Memikirkan tentang pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu kita mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang diri kita sendiri dan tempat kita dalam dunia ini.

5. Perspektif Lintas Disiplin Ilmu
Filsafat tidak terbatas pada satu bidang ilmu saja. Ia sering kali menyentuh berbagai disiplin ilmu lainnya seperti ilmu pengetahuan, seni, politik, dan agama. Oleh karena itu, mempelajari filsafat dapat membantu kita mengembangkan pemahaman yang lebih holistik tentang dunia dan mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai bidang.

6. Keterlibatan dalam Dialog Sosial dan Politik
Dalam dunia yang semakin terkoneksi, memiliki pemahaman tentang filsafat dapat membantu kita berpartisipasi dalam dialog sosial dan politik. Ini memungkinkan kita untuk berkontribusi dalam pembentukan kebijakan, merumuskan solusi untuk masalah sosial, dan berkontribusi pada perubahan positif dalam masyarakat.

Dalam kesimpulan, mempelajari filsafat tidak hanya relevan bagi para pemikir elit, tetapi juga penting bagi semua orang dalam era modern. Kemampuan berpikir kritis, pemahaman nilai dan etika, kemampuan berkomunikasi yang lebih baik, pemahaman mendalam tentang dunia, perspektif lintas disiplin ilmu, dan keterlibatan dalam dialog sosial adalah hanya beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari memahami dan mempelajari filsafat. Dengan demikian, filsafat dapat menjadi alat yang berharga dalam membimbing kehidupan kita menuju pemahaman yang lebih mendalam dan reflektif tentang diri kita dan dunia di sekitar kita.

Kamis, 31 Agustus 2023

Menggali Kearifan Tasawuf Dalam Era Teknologi 4.0


Era Teknologi 4.0, yang ditandai oleh kemajuan pesat dalam teknologi digital dan komunikasi, telah membawa perubahan mendasar dalam hampir semua aspek kehidupan manusia. Dalam konteks ini, peran tasawuf, suatu dimensi dalam Islam yang menekankan pada aspek spiritualitas, kepemahaman mendalam, dan hubungan personal dengan Tuhan, memiliki relevansi yang signifikan. Di tengah semua inovasi dan transformasi yang dibawa oleh teknologi 4.0, tasawuf mampu memberikan landasan penting untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kebutuhan spiritual manusia.

Teknologi 4.0 telah merubah cara kita berkomunikasi, bekerja, berinteraksi, dan bahkan beribadah. Namun, di tengah kemudahan dan kenyamanan yang diberikan oleh teknologi ini, manusia juga semakin rentan terhadap kehilangan makna dan tujuan hidup. Inilah dimana peran tasawuf muncul sebagai pemandu untuk mengarahkan manusia agar tetap terhubung dengan makna yang lebih dalam.
Tasawuf mengajarkan tentang introspeksi, kontemplasi, dan penemuan diri. Dalam era di mana informasi begitu melimpah, tasawuf dapat membantu manusia untuk merenung, memahami esensi hidup, dan mencari tujuan yang lebih besar daripada sekedar materi atau kesenangan sesaat. Praktik-praktik tasawuf seperti meditasi, zikir, dan tafakkur dapat membantu manusia menjaga keseimbangan mental dan emosional dalam menghadapi tekanan dan hiruk-pikuk teknologi modern.

Selain itu, tasawuf juga menekankan pada nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Dalam konteks teknologi 4.0, di mana konektivitas global semakin erat, nilai-nilai ini menjadi semakin penting. Dengan memadukan ajaran tasawuf dengan teknologi, kita dapat membangun dunia yang lebih berempati dan berkeadilan, di mana teknologi digunakan untuk kebaikan bersama dan mengurangi kesenjangan sosial.

Penting untuk diingat bahwa tasawuf tidak bertentangan dengan perkembangan teknologi. Sebaliknya, tasawuf mengajarkan tentang penerimaan terhadap perubahan dan adaptasi dengan bijak. Menggabungkan ajaran tasawuf dengan teknologi dapat menghasilkan inovasi yang berkelanjutan dan berorientasi pada kebaikan. Misalnya, aplikasi dan platform teknologi dapat digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan positif, edukasi spiritual, dan membangun komunitas yang saling mendukung.

Kesimpulan
Secara kesimpulan, peran tasawuf dalam era teknologi 4.0 adalah tentang menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan aspek spiritualitas manusia. Dalam upaya meraih kebahagiaan dan keberhasilan di dunia modern yang semakin terhubung, manusia tidak boleh melupakan dimensi spiritual dan tujuan hidup yang lebih mendalam. Dengan mengaplikasikan nilai-nilai tasawuf, manusia dapat memanfaatkan teknologi secara positif dan mengintegrasikan pengembangan diri yang holistik.
Oleh karena itu, penting bagi individu dan masyarakat untuk merenungkan dan mengambil inspirasi dari ajaran tasawuf dalam menjalani kehidupan di era teknologi 4.0. Dengan begitu, kita dapat mencapai harmoni antara kemajuan teknologi dan kebutuhan spiritual, menciptakan dunia yang lebih manusiawi, berempati, dan berkelanjutan.

Rabu, 30 Agustus 2023

Menuju Keseimbangan Spiritual dan Kehidupan Modern



Kehidupan modern seringkali dikenal dengan hiruk-pikuknya, di mana teknologi, karier, dan komitmen sosial terus bersaing untuk perhatian kita. Dalam kebisingan dunia yang semakin kompleks ini, penting bagi kita untuk tidak melupakan perawatan terhadap aspek spiritual kita. Salah satu konsep sentral dalam Islam yang berkaitan dengan pembersihan dan pemurnian jiwa adalah "Tazkiyatun Nafs".

Tazkiyatun Nafs: Mengenal Konsepnya

Tazkiyatun Nafs berasal dari bahasa Arab, di mana "tazkiya" berarti membersihkan atau menyucikan, dan "nafs" merujuk kepada jiwa atau diri. Konsep ini merujuk kepada usaha sadar untuk membersihkan dan memurnikan jiwa dari sifat-sifat negatif seperti keserakahan, kebencian, kesombongan, dan lain sebagainya, serta meningkatkan sifat-sifat positif seperti kesabaran, kasih sayang, rendah hati, dan ketekunan.

Dalam Al-Qur'an, konsep Tazkiyatun Nafs secara eksplisit ditegaskan. Surah Al-Shams (91:9-10) mengatakan, "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." Ini menunjukkan bahwa pembersihan jiwa memiliki dampak positif terhadap individu itu sendiri.

Pentingnya Tazkiyatun Nafs dalam Kehidupan Modern

Dalam era di mana distraksi digital dan tuntutan dunia semakin kuat, penting bagi individu untuk secara teratur merenung dan memperbaiki diri. Berikut adalah beberapa alasan mengapa Tazkiyatun Nafs penting dalam kehidupan modern:

Keseimbangan Emosional: Tazkiyatun Nafs membantu menjaga keseimbangan emosional. Dengan membersihkan jiwa dari rasa marah berlebihan, iri hati, dan dendam, individu dapat merasakan kedamaian dalam diri dan menghadapi stres dengan lebih tenang.

Hubungan Antarmanusia: Proses ini juga berdampak pada hubungan sosial. Dengan memurnikan hati dari sifat-sifat negatif, individu dapat memperlakukan orang lain dengan lebih baik, membangun hubungan yang sehat, dan mencegah konflik yang tidak perlu.

Peningkatan Spiritualitas: Tazkiyatun Nafs adalah jalan menuju kedekatan dengan Tuhan. Dengan membersihkan jiwa, individu dapat merasa lebih terhubung dengan nilai-nilai spiritual dan meningkatkan praktik ibadah mereka.

Peningkatan Produktivitas: Pembersihan jiwa membantu mengatasi sifat-sifat seperti malas dan kurangnya motivasi. Sehingga, individu menjadi lebih produktif dalam pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.

Ketahanan Mental: Tazkiyatun Nafs membantu membangun ketahanan mental. Dalam menghadapi kesulitan, individu yang memiliki jiwa yang suci cenderung lebih mampu menghadapinya dengan bijaksana dan sabar.

Melangkah Menuju Tazkiyatun Nafs

Bagaimana seseorang bisa memulai proses Tazkiyatun Nafs di tengah kehidupan modern yang sibuk? Berikut beberapa langkah yang dapat diambil:

  • 1.   Self-awareness: Mulailah dengan mengenali sifat-sifat negatif dalam diri Anda. Kesadaran diri adalah langkah pertama menuju perubahan positif.
  • 2.  Refleksi Harian: Luangkan waktu setiap hari untuk merenung tentang tindakan dan perilaku Anda. Pertanyakan apakah itu sesuai dengan nilai-nilai positif yang ingin Anda tingkatkan.
  • 3.  Dzikir dan Doa: Libatkan dzikir (pengingat) dan doa dalam rutinitas harian Anda. Ini membantu menjagakesadaran spiritual dan meredakan kegelisahan.
  • 4.    Pengembangan Diri: Luangkan waktu untuk belajar dan berkembang. Ini bisa melalui membaca literatur spiritual, mengikuti kelas atau seminar, atau bahkan berdiskusi dengan para mentor spiritual.
  • 5.    Bersedekah dan Berbuat Baik: Terlibatlah dalam amal kebajikan dan bersedekah kepada mereka yang membutuhkan. Ini membantu membersihkan hati dan jiwa dari sifat-sifat egois.

Dalam dunia yang serba cepat ini, Tazkiyatun Nafs menawarkan landasan yang kokoh untuk menjaga keseimbangan antara dunia material dan kebutuhan spiritual. Dengan membersihkan jiwa kita secara teratur, kita dapat mencapai kedamaian internal yang berdampak positif pada diri kita sendiri dan masyarakat di sekitar kita.

Selasa, 29 Agustus 2023

7 Tips Efektif Menulis Paragraf Yang Berkualitas


Menulis merupakan keterampilan penting dalam berbagai aspek kehidupan, baik akademik maupun profesional. Salah satu elemen kunci dalam tulisan adalah paragraf. Paragraf yang baik dapat membuat tulisan lebih terstruktur, mudah dipahami, dan efektif dalam menyampaikan ide. Artikel ini akan membahas tujuh tips efektif untuk menulis paragraf berkualitas.

1. Tetapkan Ide Utama (Topik Kalimat)

Setiap paragraf sebaiknya memiliki satu ide utama yang menjadi fokusnya. Ini biasanya disebut sebagai topik kalimat. Sebelum mulai menulis paragraf, tetapkanlah ide utama yang ingin Anda sampaikan. Topik kalimat ini akan menjadi pijakan untuk mengembangkan paragraf secara lebih mendalam.

2. Gunakan Kalimat Pembuka yang Menarik

Kalimat pembuka (topic sentence) adalah kalimat pertama dalam paragraf yang memberi gambaran singkat tentang apa yang akan Anda bahas dalam paragraf tersebut. Buatlah kalimat pembuka yang menarik dan jelas menggambarkan isi paragraf. Ini akan membantu pembaca untuk memahami konteks dan tujuan dari paragraf tersebut.

3. Kembangkan dengan Rincian dan Bukti

Setelah kalimat pembuka, lanjutkan dengan rincian dan bukti yang mendukung ide utama. Rincian dapat berupa contoh konkret, data, kutipan, atau analogi yang mendukung dan memperjelas konsep yang Anda sampaikan. Rincian ini membantu memperkuat argumen Anda dan membuat paragraf lebih meyakinkan.

4. Pemahaman Struktur Kalimat

Variasi dalam struktur kalimat membantu menjaga keseimbangan dan aliran dalam paragraf. Gunakan kalimat pendek untuk menyoroti poin penting, dan gunakan kalimat panjang untuk menjelaskan konsep yang lebih rumit. Hindari pengulangan kata atau frasa yang sama dalam kalimat berurutan untuk menjaga kejelasan dan variasi.

5. Pemahaman Kohesi dan Koherensi

Kohesi mengacu pada bagaimana kalimat dalam paragraf saling terhubung, sementara koherensi mengacu pada keseluruhan aliran ide di seluruh paragraf dan tulisan. Pastikan setiap kalimat berhubungan erat dengan kalimat sebelumnya dan sesudahnya. Gunakan kata penghubung yang sesuai untuk mengarahkan aliran pikiran.

6. Singkat dan Jelas

Penting untuk menghindari pengulangan yang tidak perlu atau perincian yang berlebihan dalam paragraf. Usahakan untuk menulis dengan singkat dan jelas, menyampaikan ide secara efisien tanpa mengorbankan kejelasan. Bacalah kembali paragraf Anda dan pertimbangkan apakah setiap kata atau kalimat memberikan nilai tambah.

7. Kalimat Penutup yang Kuat

Tutuplah paragraf Anda dengan kalimat penutup yang merangkum kembali ide utama atau memberikan pandangan baru. Kalimat penutup yang kuat dapat meninggalkan kesan yang mendalam pada pembaca dan mengaitkan paragraf dengan ide-ide berikutnya.

Kesimpulan

Menulis paragraf yang efektif membutuhkan perhatian terhadap struktur, kohesi, dan kejelasan. Dengan mengikuti tips di atas, Anda dapat mengembangkan paragraf yang kuat, teratur, dan mudah dipahami. Teruslah berlatih untuk mempertajam keterampilan menulis Anda dan menciptakan tulisan yang berdampak.

Minggu, 27 Agustus 2023

Menjadi Muslim Yang Berperadaban


Menyatukan ajaran agama dengan perkembangan peradaban adalah tantangan penting bagi umat Muslim di era modern. Artikel ini akan membahas bagaimana individu Muslim dapat mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan kontribusi positif dalam perkembangan peradaban. Dengan mengambil inspirasi dari sejarah Islam yang kaya akan pencapaian intelektual dan moral, artikel ini akan menyoroti pentingnya pendidikan, etika, inovasi, dan kolaborasi dalam menjadi Muslim yang berperadaban.

Pendahuluan

Islam bukan hanya agama, tetapi juga suatu peradaban yang telah memberikan sumbangan besar dalam berbagai bidang, seperti ilmu pengetahuan, seni, dan etika. Menjadi Muslim yang berperadaban berarti menghormati ajaran agama sambil aktif terlibat dalam perkembangan sosial, budaya, dan teknologi.

Pendidikan sebagai Landasan

Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk individu Muslim yang berperadaban. Pendidikan Islam tradisional menekankan pada pengembangan karakter yang kuat, beretika, dan berpengetahuan luas. Pendidikan modern harus memadukan nilai-nilai agama dengan pengetahuan kontemporer, memungkinkan generasi muda untuk berkontribusi secara signifikan dalam berbagai sektor.

Etika dalam Tindakan

Sebagai Muslim, etika adalah bagian integral dari identitas. Mengembangkan etika yang kuat dalam kehidupan sehari-hari adalah cerminan dari prinsip-prinsip agama. Membangun integritas, rasa tanggung jawab, dan penghargaan terhadap sesama manusia adalah ciri khas dari seorang Muslim yang berperadaban.

Inovasi yang Bermakna

Sejarah Islam adalah bukti kemampuan Muslim dalam inovasi yang berarti. Dalam era modern, individu Muslim dapat memberikan kontribusi inovatif dalam berbagai bidang, dari sains dan teknologi hingga seni dan desain. Menggunakan pengetahuan dan kreativitas untuk memecahkan masalah dunia nyata adalah cara untuk menjadikan inovasi sebagai bentuk ibadah.

Kolaborasi Antarbudaya

Budaya Muslim sangat beragam, dan kolaborasi antarbudaya adalah kunci dalam mengembangkan peradaban yang inklusif dan harmonis. Melalui dialog dan kerjasama, umat Muslim dapat membangun jembatan dengan masyarakat lain, menghormati perbedaan, dan mempromosikan perdamaian.

Tantangan dan Harapan

Menjadi Muslim yang berperadaban bukanlah perjalanan tanpa tantangan. Di tengah budaya konsumerisme dan teknologi yang berkembang pesat, menjaga kesederhanaan dan fokus pada nilai-nilai spiritual menjadi penting. Kritis dalam menggunakan teknologi dan menghindari dampak negatifnya adalah tugas penting.

Kesimpulan

Menjadi Muslim yang berperadaban adalah panggilan untuk menjalani kehidupan yang seimbang antara ajaran agama dan perkembangan peradaban. Dengan pendidikan yang kuat, etika yang benar, inovasi yang bermakna, dan semangat kolaborasi, individu Muslim dapat memainkan peran penting dalam membentuk masa depan yang lebih baik bagi semua manusia. Dengan inspirasi dari akar sejarah yang kaya, visi ini dapat diwujudkan dalam dunia modern yang penuh dengan potensi.






Sabtu, 26 Agustus 2023

Ketenangan Dalam Kesederhanaan; Konsep Zuhud Ibnu 'Athaillah


Zuhud, atau yang mungkin sering diartikan oleh sebagian orang sebagai ketidakpedulian terhadap dunia materi, adalah konsep yang mendalam dalam ajaran Islam. Pandangan tentang zuhud sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh spiritual dan ulama. Salah satu tokoh yang memberikan pandangan mendalam tentang zuhud adalah Ibnu Athaillah, seorang sufi dan ulama terkemuka. Mari kita menjelajahi pandangan Ibnu Athaillah terhadap konsep zuhud dan bagaimana pandangan ini dapat membawa kedamaian dan kedekatan kepada Allah.

Kesederhanaan dalam Zuhud:

Menurut Ibnu Athaillah, zuhud bukanlah tentang meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi tentang merdeka dari keterikatan terhadap dunia materi. Ia mengajarkan bahwa individu seharusnya tidak terlalu terikat pada harta, kekayaan, atau keinginan duniawi. Dalam pandangannya, dunia adalah sementara, sedangkan hubungan dengan Allah adalah abadi. Oleh karena itu, zuhud adalah cara untuk mencapai kesederhanaan dan mengutamakan nilai-nilai spiritual di atas nilai materi.

Menemukan Ketenangan dalam Zuhud:

Ibnu Athaillah mengajarkan bahwa zuhud adalah kunci untuk mencapai ketenangan batin. Dengan melepaskan keterikatan terhadap dunia materi, individu dapat membebaskan diri dari kecemasan dan ketegangan yang sering kali terjadi akibat kerisauan akan harta atau kedudukan. Dalam pandangan Ibnu Athaillah, ketenangan batin dapat dicapai melalui kesadaran akan keberadaan Allah yang lebih besar dari segala sesuatu dalam dunia ini.

Zuhud sebagai Bentuk Ibadah:

Ibnu Athaillah menekankan bahwa zuhud adalah bentuk ibadah yang mendalam. Ketika seseorang menjalani kehidupan sederhana dan tidak terlalu terikat pada dunia materi, itu adalah bentuk ibadah kepada Allah. Zuhud membantu individu untuk fokus pada pencarian Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Mengatasi Ujian Harta dan Kekayaan:

Salah satu ujian yang sering dihadapi manusia adalah harta dan kekayaan. Ibnu Athaillah mengajarkan bahwa zuhud adalah cara untuk mengatasi ujian ini. Dengan tidak terlalu terikat pada harta, individu dapat menjaga hati mereka tetap tulus dan tidak terpengaruh oleh godaan materi.

Mempraktikkan Zuhud dalam Kehidupan Sehari-hari:

Ibnu Athaillah mengajarkan bahwa zuhud bukan hanya tentang kata-kata, tetapi tentang tindakan nyata. Individu harus berusaha untuk hidup dengan sederhana, membagikan kekayaan mereka kepada yang membutuhkan, dan menghindari sifat serakah dan tamak. Melalui tindakan-tindakan ini, individu dapat menjalani zuhud dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan:
Pandangan Ibnu Athaillah tentang zuhud mengajarkan pentingnya hidup dengan sederhana dan memprioritaskan nilai-nilai spiritual. Zuhud bukanlah tentang menolak dunia sepenuhnya, tetapi tentang menjaga keseimbangan dan menjalani kehidupan dengan sikap tulus dan terbuka terhadap kehendak Allah. Dalam mengamalkan zuhud, individu dapat mencapai kedamaian batin, memperkuat hubungan dengan Allah, dan menghadapi ujian-ujian dunia dengan ketenangan dan keberanian.

Melangkah Menuju Kerharmonisan Sosial

Interaksi manusia dalam konteks muamalah, atau hubungan sosial dan ekonomi, memiliki dampak yang signifikan pada kualitas kehidupan individu dan masyarakat secara keseluruhan. Dalam pandangan Imam al-Ghazali, konsep Tazkiyatun Nafs memiliki peran penting dalam membentuk perilaku dan etika dalam muamalah. Mari kita eksplorasi bagaimana prinsip-prinsip Tazkiyatun Nafs dapat membawa harmoni dalam interaksi manusia.

Muamalah dan Tazkiyatun Nafs: Perspektif Al-Ghazali

Imam al-Ghazali mengajarkan bahwa tazkiyatun nafs, atau penyucian jiwa, adalah proses menuju kesempurnaan spiritual melalui pengendalian diri dan pemurnian akhlak. Dalam konteks muamalah, konsep ini mengajarkan individu untuk memperlakukan sesama manusia dengan kejujuran, adil, dan belas kasihan. Dengan menjaga kebersihan hati dan moralitas, individu dapat mewujudkan harmoni dalam hubungan sosial dan ekonomi.

Penerapan Tazkiyatun Nafs dalam Muamalah

Keadilan dalam Transaksi Ekonomi:

Dalam bisnis dan transaksi ekonomi, konsep Tazkiyatun Nafs mengajarkan pentingnya kejujuran dan keadilan. Imam al-Ghazali menekankan bahwa setiap pihak harus mematuhi komitmen, tidak menipu, dan menghindari riba atau praktik-praktik tidak etis dalam bisnis.

Kasih Sayang dan Belas Kasihan:

Tazkiyatun Nafs mengajarkan pentingnya kasih sayang dan belas kasihan terhadap sesama manusia. Dalam muamalah, ini tercermin dalam perlakuan yang baik terhadap mitra bisnis, pelanggan, dan karyawan. Menunjukkan perhatian dan memahami kebutuhan orang lain adalah bagian dari tazkiyah.

Menghindari Keserakahan dan Ketamakan:

Ghazali menegaskan pentingnya menjauhi keserakahan dan ketamakan dalam muamalah. Individu yang mengedepankan tazkiyatun nafs akan mengutamakan kebutuhan orang lain di atas keinginan pribadi yang berlebihan, menjaga keseimbangan dalam tindakan ekonomi.

Kehormatan dalam Kontrak dan Perjanjian:

Konsep ini juga menekankan pentingnya menghormati dan mematuhi kontrak serta perjanjian yang dibuat. Melanggar kesepakatan merupakan pelanggaran terhadap prinsip tazkiyatun nafs yang menekankan akhlak dan kejujuran.

Menghargai Nilai-nilai Etika dalam Berbisnis:

Tazkiyatun Nafs mendorong individu untuk menghargai nilai-nilai etika dalam berbisnis. Ini termasuk menghindari mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain dan mengutamakan kualitas dalam produk atau layanan yang diberikan.

Manfaat Penerapan Tazkiyatun Nafs dalam Muamalah

Penerapan prinsip Tazkiyatun Nafs dalam muamalah memiliki manfaat yang luas, termasuk:

1. Harmoni Sosial: Dengan menjalankan tazkiyatun nafs, interaksi dalam muamalah akan lebih harmonis dan saling mendukung.

2. Peningkatan Kepercayaan: Kejujuran dan akhlak baik dalam muamalah akan membangun kepercayaan yang kuat di antara individu dan komunitas.

3. Keseimbangan dalam Perekonomian: Menghindari keserakahan dan ketamakan akan membantu mencegah eksploitasi dan mewujudkan perekonomian yang lebih seimbang.

Kesimpulan

Tazkiyatun Nafs al-Ghazali menawarkan landasan moral dan spiritual yang kuat bagi individu dalam menjalani muamalah dengan manusia lain. Dengan mempraktikkan prinsip-prinsip ini, individu dapat mengembangkan hubungan yang lebih baik, etika yang lebih tinggi, dan keadilan yang lebih dalam dalam berbagai aspek muamalah. Konsep ini mengingatkan kita bahwa kejujuran, kasih sayang, dan belas kasihan adalah kunci dalam membentuk dunia yang lebih adil dan beradab.

Jumat, 25 Agustus 2023

Konsep Tazkiyatun Nafs Imam Al Ghazali dan Relevansinya Terhadap Kehidupan Modern


Tazkiyatun Nafs, atau penyucian jiwa, adalah konsep penting dalam ajaran Islam yang bertujuan untuk memurnikan dan menyempurnakan jiwa seseorang agar lebih mendekati kesempurnaan spiritual. Salah satu tokoh yang sangat dihormati dalam hal ini adalah Imam Al-Ghazali (1058-1111 Masehi), seorang ulama, filsuf, dan sufi terkemuka dari dunia Islam. Konsep tazkiyatun nafs yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan modern, di mana manusia sering kali terjebak dalam keramaian dunia materialistik dan hiruk-pikuk teknologi.

Konsep Tazkiyatun Nafs dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali meyakini bahwa tazkiyatun nafs adalah kunci utama menuju kedekatan dengan Allah dan mencapai kesempurnaan spiritual. Dalam karyanya yang terkenal, "Ihya Ulumuddin" (Revival of Religious Sciences), ia menjelaskan bahwa tazkiyatun nafs melibatkan upaya aktif untuk mengatasi hawa nafsu, memperbaiki akhlak, dan mengarahkan perhatian manusia pada hal-hal yang memiliki nilai abadi, bukan hanya pada kesenangan duniawi semata.

Menurut Imam Al-Ghazali, ada beberapa langkah penting dalam tazkiyatun nafs, antara lain:
1. Menjauhi Dosa: Menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat yang dapat merusak kesucian jiwa.
2. Menjaga Hati dan Pikiran: Mengendalikan perasaan dan pikiran agar tetap fokus pada kebaikan dan ketakwaan.
3. Mengembangkan Akhlak Mulia: Meningkatkan kualitas akhlak, seperti kesabaran, kejujuran, kedermawanan, dan kasih sayang terhadap sesama.
4. Menghindari Keserakahan: Tidak terlalu terikat pada harta dan materi, sehingga membebaskan diri dari keserakahan dan ketamakan.
5. Beribadah dan Tafakur: Melakukan ibadah dengan penuh kesadaran dan refleksi, serta merenungkan kebesaran Allah.

Penerapan dalam Kehidupan Modern

Dalam konteks kehidupan modern yang penuh dengan distraksi dan godaan duniawi, konsep tazkiyatun nafs Imam Al-Ghazali memiliki relevansi yang besar. Beberapa cara penerapan konsep ini dalam kehidupan modern adalah sebagai berikut:

1. Pengendalian Diri dalam Penggunaan Teknologi: Menggunakan teknologi dengan bijak dan tidak berlebihan, sehingga tidak terperangkap dalam dunia maya yang dapat merusak fokus dan kualitas hidup.
2. Pentingnya Introspeksi Diri: Meluangkan waktu untuk merenungkan perbuatan dan niat, serta memperbaiki hal-hal yang perlu diperbaiki dalam diri.
3. Menjaga Akhlak dalam Interaksi Sosial: Mengembangkan sikap toleransi, pengertian, dan kasih sayang dalam hubungan dengan sesama, terutama dalam era multikulturalisme.
4. Berbagi dan Kedermawanan: Menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk membantu mereka yang kurang beruntung, tanpa terikat oleh keserakahan.
5. Pengembangan Spiritualitas Individu: Melalui ibadah, dzikir, dan meditasi, individu dapat mendekatkan diri kepada Allah dalam lingkungan yang serba sibuk.


Dalam mengaplikasikan konsep tazkiyatun nafs dalam kehidupan modern, penting untuk mengenali bahwa sifat dan tantangan zaman sekarang mungkin berbeda dengan zaman Imam Al-Ghazali. Namun, prinsip-prinsip dasar seperti pengendalian diri, introspeksi, akhlak baik, dan kedekatan dengan Tuhan tetap relevan dan bermanfaat bagi kehidupan manusia di era apa pun. Dengan memahami dan menerapkan konsep ini, individu dapat meraih keseimbangan antara kebutuhan materi dan spiritual, serta membangun kehidupan yang lebih bermakna dalam dunia modern yang kompleks.

Selasa, 04 April 2023

Awas, Bahaya Modernisasi!

.


Saat ini, dunia sedang berada pada titik puncak kemajuan. Setiap tahun, dunia selalu berubah bahkan berkembang pesat dari satu zaman ke zaman yang lain. Bahkan, segala sesuatu yang bersifat primitif ataupun tradisional berubah menjadi sesuatu yang bersifat modern. Istilah ini biasa disebut dengan ‘modernisasi’.
Modernisasi merupakan suatu proses perubahan cara tradisional menjadi cara baru yang lebih maju. Perubahan ini, mencangkup aspek sosial, aspek ekonomi dan aspek politik. Awalnya, modernisasi telah berkembang pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Muculnya istilah ‘modernisasi’ memang memberikan dampak positif terhadap kehidupan manusia. Berbagai kehidupan manusia menjadi lebih mudah dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih. Tidak hanya sebatas teknologi, ide-ide pun mulai berkembang sehingga tidak lagi bersifat jumud dalam berpikir.
Ciri khas modernisasi yang dapat dilihat dari manusia adalah tingkat berpikir, iptek dan sikapnya terhadap penggunaan waktu dan penghargaan terhadap hasil karya manusia yang telah dihasilkan. Namun, perlu diingat bahwa dalam kacamata islam maju mundurnya suatu zaman bukan berdasarkan ukuran-ukaran yang bersifat sekuler. Tapi, maju mundurnya suatu zaman diukur berdasarkan nilai-nilai keislaman.
Akibat adanya modernisasi, gaya kehidupan masyarakat indonesia khususnya sudah banyak yang mengikuti gaya kehidupan ala-barat dan kehidupan terlalu bebas sehingga nilai-nilai islam dalam kehidupan seseorang banyak yang sudah terkikis dan terkoniminasi oleh gaya barat. Selain itu, sikap seseorang menjadi individualistis, dengan kemajuan teknologi yang canggih orang menjadi cenderung suka melakukan aktivitasnya sendiri tanpa membutuhkan orang lain.
Masyarakat semakin berloma-lomba dalam membeli alat tekhnologi yang semakin cannggih, hidup dalam bergelimpangan kekayaan harta dan benda. Hingga terlalu disibukkan oleh urusan ‘duniawi’ yang tidak pernah habis, hingga lupa akan ‘Sang Pencipta’, lupa akan tuhannya. Tanpa memiliki waktu khusus untuk mengingat-Nya. Hingga, akhirnya berujung pada kekacauan dan kegelisahan hati.
Handpone contohnya, salah satu contoh kecil yang lahir dari produk modernisasi. Manusia menjadi lebih mudah dalam menghubungi manusia yang lain dalam waktu yang relatif singkat. Dan, tanpa disadari pola pikir seseorang pun menjadi berubah, handpone menjadi segala-galanya dalam kehidupan, lebih sering dipegang daripada Al-qur’an yang menjadi pedoman hidup manusia sendiri. Jika, manusia dapat meluruskan pola pikirnya, maka ia dapat menjadikan handpone sebagai sumber dakwah. Dengan meng-upload ajakan beribadah, peringatan akan perbuatan maksiat dan sebagainya. Bukan untuk menggunjing saudaranya sendiri atau menebarkan berita hoax.
Modernisasi tidak bisa kita hindari, karena akan terus datang dengan segala macam cara dan perubahan yang tidak bisa ditolak. Maka, sebagai mahasiswi muslim perlu untuk membentengi aqidah dengan sekokoh mungkin, menambah wawasan yang luas, serta tidak alergi dalam membaca. Sehingga, mampu memilah antara kebenaran dan kebatilan dan menjawab persoalan umat. Karena, adanya ilmu pengetahuan di dalam islam adalah penedkatan kepada Sang Khalik dan menuntut umatnya agar hasil dari iptek itu terarah kepada kemaslahatan bukan untuk kerusakan.
Dan, Sudahkan anda menjadi mahasiswi modern yang sesuai dengan tradisi nilai-nilai islam?

Selasa, 06 Juli 2021

Waspada Penyerangan Iman!

            Allah SWT. Telah menegaskan secara tegas dalam firmannya yang tertulis dalam Al-qur’an, bahawa agama yang sempurna adalah agama islam. Namun, pada saat ini rupanya umat islam sedang dilanda wabah penyakit yang cukup serius dan berbahaya., bagi kesatuan umat islam sendiri. Penyakit ini mulai merambah secara perlahan dan tidak ada yang menyadarinya.

            Namun, sebelumnya, bukankah kita mengetahui bahwa bangsa barat mempunyai rasa benci yang amat mendalam terhadap umat islam sejak dulu, berbagai cara dan juga usaha telah dilakukan oleh mereka untuk menhancurkan umat islam. Namun, saat usaha dan cara telah dilakukan dan tidak berhasil. Akhirnya, mereka menyadari bahwa umat islam tidak dapat dihancurkan dengan kekuatan fisik dan seacar terang-terangan.
            Melihat segala usaha belum berhasil. Mereka tidak menyerah dengan menelusuri dan mempelajari dasar-dasar yang menjadikan umat islam ini mempunyai kesatuan yang luar biasa. Akhirnya, PELUNTURAN IMAN adalah cara yang ampuh untuk menghancurkan umat muslim. Itu kata mereka! Saat iman umat muslimluntur, aqidahnya lemah, maka, secara perlahan kesatuan dan ketaatan umat islam terhadap agamanya akan semakin tergerogoti kesatuannya.
            Akhinya, mereka berlomba-lomba membuat alat yang akan menjauhkan umat islam dari agamanya, yang akan menjauhkan umat islam dari kitab sucinya, Al-Qur’an yang selama ini menjadi pedoman hidupnya. Hp, android berbagai aplikasi, facebook, line, tik-tok, Twitter, Instagram itu semua hanyalah alat yang sengaja dibuat oleh orang-orang yahudi dan barat untuk menarik perhatian umat islam dari agamanya. Saat umat islam sudah terlena dengan hp dengan obrolannya bersama teman atau bahkan pacar sehingga lupa, lupa dengan segala kewajiban agamanya, inilah yang diharapkan oleh orang barat. Bahkan, tidak hanya tekhnologi saja berbagai acara televisi yang diadakan, ajang cari bakat, ajang cari bakat nyanyi dan sebagainya, itu juga hanyalah alat. Siapa pengikutnya? Umat islam, berjilbab tapi mereka tidak punya rasa malu untuk berjoget atau beragya di depan umum, mangaku islam, tetapi, berani umbar aurat depan publik.
            Itu semua adalah wabah, wabah yang berbahaya bagi umat islam tapi hampir tidak ada yang menyadarinya. Sudah diingatkan, alasannya itu hanya hiburan, ingin menunjukkan bakat. Tapi, lihat! Ingat! Indetitas kalian!
            Hei! Ingat JASMERAH, jangan melupakan sejarah! Tengoklah kembali masa peradaban islam terdahulu. Maju, maju karena mereka berusaha dengan segala kegigihan dan fasilitas yang ada. Islam Berjaya, karena semua taat terhadap syari’at danperintah agamanya. Bangsa barat saja rela belajar akan peradaban islam untuk menghancurkan islam sendiri, tapi mengapa islam tidak mau menengok sejarahnya sendiri.
            Ya Allah. Tunjukkanlahkami kejalan yang benar, yang penuh berkah dan selalu diridhai olehmu. Lindungilah kami, lindungilah dari godaan syetan yang terkutuk.

Kamis, 13 Mei 2021

IBNU SINA (BAPAK ILMU KEDOKTERAN MODERN)

           


Sejarah membuktikan, zaman keemasan kerap dibarengi dengan kemajuan dibidang sains, matematika, dan teknologi. Begitu juga peradaban islam yang pernah berjaya, umat islam mendominasi dan menelurkan penemuan-penemuan yang menakjubkan dan membuka cakrawala dunia sains.

Namun sayang, masyarakat lebih akrab dengan para ilmuwan Barat daripada para Ilmuwan Muslim. Karya Fenomenal ilmuwan Muslim hanya menjadi gambaran romantisme sejarah dan umat islam saat ini belum menemkan wujud jatinya sebagai penggerak peradaban sebagaimana beberapa abad lalu.
Kini, umat islam hanya bisa disuguhi karya-karya Barat yang kering dengan ruh spiritual. Sudah saaatnya masyarakat dikenalkan kepada mereka yang sesungguhnya telah mengubah perdaban dunia melalui karya-karyanya. Salah satunya adalah Ibn Sina yang lebih dikenal oleh masyrakat eropa dengan sebutan Avicenna.
            Sejak kecil, Ibnu Sina yang dikenal sebagai bapak pengobatan modern ini sudah mahir dalam pengobatan. Belum genap berusia 16 tahn, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah dikenal banyak orang, serta banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Bahkan ia membuka prakten dan mengobati orang-orang yang sedang sakit.
            Ia juga tidak pernah bosan membaca buku-buku filsafat. Setiap kali menghadapi kesulitan, ia memohon petunjuk kepada Allah SWT. Ia juga sering tertidur karena kepayahan membaca, di dalam tidurnya itu dilihatnya pemecahan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.
Sewaktu seusia 17 tahun, atas panggilan istana, ia pernah mengobati Pangeran Nuh Ibn Mansur sampai pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibn Sina mendapat sambutan baik dan dapat mengnjungi perpustakaan yang penuh dengan bku-buku yang sukar didapat. Kemudian membaca dengan segala keasyikannya.
Dalam bidang materia medeica, ibnu sina telah banyak menemkan bahan nabati baru zanthoxyllum budrunga yang dapat menyembuhlkan beberapa penyakit tertentu, seperti radang selaput otak (meningitis). Ibnu Sina adalah orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, baru 600 tahun kemudian disempurnakan oleh Wiliam Harvey.
Dia pulalah yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya. Dia jugalah yang mula-mula mempraktelkkan pembedahan penyakit-penyakit bengkak yang ganas dan menjahitnya. Dan dia juga terkenal sebagai dokter ahli jiwa dengan cara-cara modern yang kini disebut psikoterapi.
Sekali pun hidup dalam waktu penh kegncangan dan sering sibuk dengan soal negara, tapi ia mampu menulis sekitar 250 judul bku. Diantaranya karya yang paling masyhur adlah al-Qanun. Kitab ini mengupas kaidah-kaidah mum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit.
Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab al-Qann diterjemahkan kedalam bahas latin. Kini, buku tersebut jga telah diterjemahkan kedalam bahasa inggris, pwerancis, dan Jerman. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas eropa.

Karya kedanya adalah ensiklopedia Kitab Asy-Syifa, karya ini merupakan titik puncak filsafat peripatetik dalm islam. Selain menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa Persia.

Senin, 04 Januari 2021

KEHIDUPAN ADALAH AMANAH

 

Tanggungan yang paling berat di dunia adalah amanah. Di dalam surah Al Ahzab ayat 72, dijelaskan bahwa sesungguhnya Allah menawarkan amanah kepada langit, bumi serta gunung-gunung. Namun, semua menolak karena mengetahui bahwa sebuah amanah adalah tanggungan yang berat. Namun, saat manusia menerima amanah, mereka justru menzalimi dan mengkhianatinya.
Tidak semua orang mampu menjalankan amanah dengan baik. Amanah merupakan tanggung jawab yang besar yang diberikan kepada orang lain terhadap dirinya sendiri. Bukan hanya orang lain saja, namun Allah SWT juga memberikan tanggungan terhadap manusia atas segala perintah-perintahnya. Karena amanah merupakan tanggung jawab, pesan, atau tindakan yang harus dilakukan dan dijaga dengan sebaik-baiknya.
Lingkup amanah tidak hanya pada sekedar jabatan. Sebagaimana banyak yang hanya  memaknai arti amanah pada orang yang dapat mengemban jabatannya dengan baik. Namun, amanah juga terdapat bagaimana seseorang mampu menjalankan amanahnya terhadap perintah Allah SWT, amanah terhadap harta bendanya, amanah terhadap dirinya, amanah dalam perilakunya bahkan amanah terhdap dirinya sendiri dan sebagainya.
Orang dikatakan tidak beriman apabila belum dapat menjalankan amanahnya dengan baik. Orang yang beramanah, hendaklah ia juga menunaikan amanahnya atas  perintah Allah SWT. Beribadah, menjalankan syariat-syariat islam, berbuat baik, berakhlak mulia dam sebagainya. Begitu beratnya kedudukan amanah dalam islam Rasulullah SAW sampai membandingkan antara amanah dengan keimannan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadisnya.
عن أَنس بن مالك قال ما خطب نا نبيّ الله صلَّى اللَه عليه وسلَّم إلاّ قال :لا إِيمان لمن لا أَمانة له ولادين لمن لا عهدله  (رواه أحمد)
Dari Anas bin Malik ra berkata; Nabi saw menyatakan: “Tidaklah beriman seseorang apabila ia tidak dapat memegang amanah, dan tidaklah beragama seseorang apabila tidak memegang janji” (H.R. Ahmad)
Amanah merupakan pondasi besar dalam realisasi manusia terhadap umat yang lain. Suatu negara akan hancur apabila para pemimpinnya tidak beramanah lagi, bahkan suatu hadis meriwayatkan bahwa salah satu munculnya tanda kiamat adalah hilangnya amanah dari sifat manusia. Dan banyaknya orang-orang-orang yang suka berkhianat diberi kepercayaan.

Sabtu, 01 Agustus 2020

BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN SYAMSUDDIN AS-SUMATRANI DALAM DUNIA TASAWUF

 


A. Riwayat Hidup
Nama lengkapnya adalah al-Syaikh Syamsuddin ibn ‘Abdullah as-Sumatrani, tetapi sering juga disebut Syamsuddin Pasai.[1] Merupakan ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasawarsa terakhir abad ke-16 dan tiga dasawarsa pertama abad ke-17. beliau menjadi mufti serta penasihat Sultan Iskandar Muda, seorang pembesar dan penghulu agama, dan ada juga yang menyebutkan bahwa beliau adalah seorang syeikh terkemuka yang berada di lingkungan kerajaan Aceh Darussalam.[2]
Menurut sebagian sejarawan, penisbahan namanya dengan sebutan sumatrani ataupun pasai mengisyaratkan adanya dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, orang tuanya adalah orang Pasai (Sumatra). Dengan demikian, dapat diduga bahwa ia lahir dan dibesarkan di Pasai.
Jikalau tidak lahir di Pasai, maka hal ini merujuk pada kemungkinan yang kedua. Yaitu ulama tersebut merupakan ulama yang paling terkemuka dan telah lama menetap di Pasai, bahkan ia meninggal dan di kuburkan disana.[3]
Kedudukan Syamsuddin sebagai pembesar kerajaan bukanlah semata-mata karena hadiah dari raja.[4] Namun, menurut hikayat aceh, diangkatnya Syamsduddin as Sumatrani disebabkan oleh pengetahuannya yang luas dan pemikirannya yang tajam.
Syamsuddin al-sumatrani ialah murid dan sahabat Hamzah Fansuri yang mengkaji insan kamil melalui pemikirannya tentang martabat tujuh, karena hal ini lah ia mendapat kecaman dari al-Raniri.[5] Selain itu, ia juga meneruskan ajaran tentang wujudiyah yang pernah di kembangkan oleh Hamzah Fansuri.[6]  Namun, martabat tujuh inilah yang membedakan anatarn Syamsuddin dengan gurunya, karena tidak ditemukan pada ajaran Hamzah Fansuri.[7]
Menurut sumber-sumber yang ada, tidak diketahui dengan jelas kapan dan dimana Syamsuddin as-Sumatrani dilahirkan. Dalam buku Bustanul Salatin karya Nuruddin ar-Raniri hanya diperoleh penjelasan bahwa Syamsuddin as-Sumatrani wafat pada hari ke-12 bulan Rajab tahun 1039 H/1630 M. Dan hingga saat ini, letak jenazah Syamsuddin dimakamkan masih belum ditemukan.[8]
Disisi lain, Syamsuddin juga mendapat pertentangan dari ulama yang lain. Yang pertama kali mengecam adalah Nuruddin ar-raniri. Seorang ulama besar dan syeikh tarekat Rifaiah di India yang merantau dan kemudian menetap di Aceh.[9] Nuruddin al-raniri menyatakan bahwa ajaran Syamsuddin sejalan dengan Hamzah Fansuri, dan kemudian ia dijadikan musuh bersama oleh para pengikut Nuruddin al-Raniri.[10]
Kecaman dari Nuruddin berakhir buruk terhadap ajaran Syamsudin as Sumatrani.[11] Karena, seluruh ajaran dan karya Syamsuddin dibakar habis olehnya. Tidak hanya itu, Nuruddin berhasil membujuk Sultan Iskandar Tsani, sehingga ia meemerintahkan kepada seluruh rakyatnya agar meninggalkan ajaran Syamsuddin dan Nuruddin yang dinilai sesat.
B. Karya-Karya Syamsuddin as-Sumatrani
Karya-karya milik Syamsuddin as-Sumatrani ada yang ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Melayu (jawi), diantaranya adalah: Jawhar al-Haqa’iq, merupakan karyanya yang paling lengkap. Syamsuddin menulis tentang martabat tujuh dan jalan agar lebih dekat kepada Allah.[12]
Kitab ini berjumlah sebanyak 30 halaman dan pernah disunting oleh Van Niewenhujize, seoramg sarjana Belanda yang pernah melakukan penelitian terhadap Syamsuddin as Sumatrani. Selain itu, kitab ini merupakan kitab terlengkap yang menjelaskan konsep tentang martabat tujuh. Dan menjelaskan tentang konsep tentang tasawwufnya.
Risalah Tubayyin Mulahazhat al-Muwhhidin wa al-Mulhidin fi Dzikr Allah, yang berjumlah sebanyak 9 halaman menggunakan bahasa Arab. Buku ini menjelaskan perbedaan antara kaum mulhid dan perbedaan yang bukan mulhid.
Mir’at al-Mu’minin yang berjumlah sebanyak 70 halaman. Karya ini menjelaskan tentang keimanan kepada Allah SWT. Para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhirat, dan kadar-Nya. Dalam karya ini dijelaskan mengenai butir-butir aqidah, sejalan dengan faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tepatnya pada Asy’ariah-Sanusiah.
Syarah Ruba’I Hamzah Fansuri, berjumlah 24 halaman. Karya ini berisi tentang ulasan terhadap 39 bait atau 156 baris, syair Hamzah Fansuri. Isinya menjelaskan tentang pengertian kesatuan wujud (wahdat al-wujud). Karya ini bukti yang cukup kuat bahwa Syamsuddin as-Sumatrani adalah penyambung aktivis dna bertanggung jawab menyebarkan ajaran agama gurunya Hamzah Fansuri.[13]
Nur al-Dawa’iq, berjumlah 9 halaman berbahasa Arab dan 19 halaman berbahasa Melayu. Karya ini menjelaskan tentang rasahia Ilmu Ma’rifah atau martabat tujuh.
Thariq al-Salikin, berjumlah 18 halaman dan berbahasa Melayu. Karya ini mengandung penjelasan tentang sejumlah istilah, seperti wujud, ‘adam, haqq, bathil, wajib, mumkin, mumtani’ dan sebagainya.
Mir’at al-Iman atau Kitab Bahr al-Nur berjumlah 12 halaman, berbahasa Melayu). Karya ini berbicara tentang ma’rifah, martabat tujuh dan tentang roh. Kitab al-Harakah 4 halaman, ada yang berbahasa Arab dan ada pula yang berbahasa Melayu. Karya ini berbicara tentang ma’rifah atau martabat tujuh.[14]
D. Kesimpulan
Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani adalah seorang ulama besar Aceh yang hidup pada Abad ke-16 dan ke-17 Masehi. Beliau merupakan murid dari seorang Ulama yang dikenal dengan nama Hamzah al-Fansuri. Meskipun secara pasti tidak diketahui kelahiran beliau namun dari namanya menunjukkan bahwa beliau merupakan Ulama yang berasal dari Pasai (Aceh).
Syamsuddin mendapat kecaman dari Nuruddin ar Raniri, karena dinilai ajaran yang disebarkan olehnya dinilai sesat. Bahkan seluruh hasil karyanya di bakar habis.

DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi, Ensikopedi Tasawuf, (Penerbit Angkasa : Bandung, 2008)
Firdaus, Meretas Jejak Sufisme di Nusantara, Jurnal Al_Adyan, Volume 13, No. 2, Juli-Desember 2018
Hadi, Arki Aulia, Perkembangan Awal Islam di Nusantara dan Wacana Sifistik Tasawuf Falsafi Pada Abad 17, Journal of Islamic Studies, Vol. 03, No. 01 Januari-Juni 2019.
Kharlie, Ahmad Tholabi, Pergumulan Pemikiran Mistiko Filosofi di Nusantara Abad 16-18 M, (Jurnal Qalam, Vol. 23 No.2 (Mei-Agustus 2006).)
Suwondo, Tirto, Syamsuddin As-Sumatrani (Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya), Jurnal Pengkajian dan Penelitian Sastera Asia Tenggara, Juli-Desember 1998, Bilangan 7/Jilid 4.
Syahid, Ahmad, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia (Tradisi, Intelektual, dan Sosial, (Penerbit Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan : Jakarta, 2015.



[1]Azyumardi Azra, Ensikopedi Tasawuf, (Penerbit Angkasa : Bandung, 2008), h. 1200
[2]Tirto Suwondo, Syamsuddin As-Sumatrani; Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya, dalam Jurnal Pengkajian dan Penelitian Sastera Asia Tenggara, (Juli-Desember 1998), 50.
[3] Firdaus, Meretas Jejak Sufisme di Nusantara, dalam Jurnal Al-Adyan , Volume 13, No. 2, (Juli-Desember 2018), 11.
[4] Tirto Suwondo, Syamsuddin As-Sumatrani; Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya,… Hal. 49
[5]Ahmad Tholabi Kharlie, Pergumulan Pemikiran Mistiko Filosofi di Nusantara Abad 16-18 M, dalam Jurnal Qalam, Vol. 23 No.2 (Mei-Agustus 2006).) Hal. 232
[6]Arki Aulia Hadi, Perkembangan Awal Islam di Nusantara dan Wacana Sifistik Tasawuf Falsafi Pada Abad 17, dalam Journal of Islamic Studies, Vol. 03, No. 01 (Januari-Juni 2019). Hal. 7
[7] Arki Aulia Hadi, Perkembangan Awal Islam di Nusantara dan Wacana Sifistik Tasawuf Falsafi Pada Abad 17,… hal 8
[8] Tirto Suwondo, Syamsuddin As-Sumatrani; Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya,… Hal. 50.
[9] Tirto Suwondo, Syamsuddin As-Sumatrani; Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya, … Hal. 55
[10] Ahmad Tholabi Kharlie, Pergumulan Pemikiran Mistiko Filosofi di Nusantara Abad 16-18 M…., Hal. 233
[11] Tirto Suwondo, Syamsuddin As-Sumatrani; Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya,… Hal. 55.
[12]Ahmad Syahid, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia (Tradisi, Intelektual, dan Sosial, (Penerbit Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan : Jakarta, 2015) Hal. 85.
[13]Tirto Suwondo, Syamsuddin As-Sumatrani; Riwayat, Karya, Ajaran, Kecaman, dan Pembelaannya …, Hal. 51
[14]Ahmad Syahid, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia (Tradisi, Intelektual, dan Sosial)..., Hal. 85.