Advertise

Kamis, 07 November 2019

SEMUT DAN TEKNOLOGI MODERN

 


Tahun dua ribu enam ratus masehi, saat kecerdasan manusia diatas rata-rata. Serta, tekhnologi canggih menjadi andalan para makhluk hidup di Bumi.
Asap hitam mengepul hampir disetiap sudut kota, memenuhi langit-langit udara yang terlihat terik karena sengatan matahari yang menyilaukan. Suara bising terdengar memekakan telinga, membuat orang enggan untuk melangkahkan kakinya keluar rumah. Bau tak sedap pun tercium dimana-mana, membuat rasa mati hidung saat orang mencium baunya. Entah, darimana bau ini berasal. Para khalifah bumi dan semut-semut berlalu hilir mudik, menyibukkan diri mereka untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papannya.
Sekian orang sudah membuka tokonya sejak pagi buta, mengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan hdup yang semakin tinggi tarif harga didunia. Uang tak lagi laku di zaman ini, semua transaksi dilakukan secara otomatis, melalui data yang berada disetiap tablepad canggih, yang kini dimiliki setiap orang. Bahkan jika ingin memberi uang terhadap pengemis pun, tinggal menentukan berapa tarif yang akan diberikan. Maka, nominal pada tablepad milik pengemis pun akan bertambah secara otomatis. Begitu pula, saat menaiki kendaraan umum, hanya cukup dengan menyamakan kode, lalu mentransfer nominal yang dibutuhkan pada tablepad milik kendaraan umum tersebut.
Kulirik jam digitalku sesaat, hari semakin terik. Padahal, waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, namun, matahari sudah serasa membakar ubun-ubun di kepala ini. dengan sigap aku menaiki XP-eight milikku. Ya, XP-eight sejenis mobil layang yang beroperasi diudara dengan berbahan bakar oli dan campuran bahan kimia lainnya. Manusia dan semut atau Ma-Ant tidak perlu lagi susah-susah melakukan aktivitas padatnya, hanya berbicara dengan remote control tombol maka semua akan terlaksana secara otomoatis, ya maklum saja kabel-kabel transparan menjalar di setiap rumah dan jalan-jalan besar.
Dengan berkembangnya tekhnologi yang canggih, manusia menjadi lebih sering di rumah. Mengerjakan segala pekerjaannya dengan mudah dan praktis. Manusia, yang memang memiliki watak yang tamak, keras dan egois pun menjadi berlomba-lomba menciptakan tekhnologi yang lebih canggih. Spesies Ma-Ant pun tak kalah saingnya dengan para manusia, hanya saja, menurutku mereka dapat mengatur segala keinginan yang mereka punya untuk kepentingan bersama, ya mereka terlihat lebih bijak ketimbang manusia sendiri.
“Pagi sekali berangkat sekolahnya,” seseorang menyapaku, aku sedikit terhentak, melihat kedatangan Chu tiba-tiba.
Aku menaikan alisku, sembari menyahut sapaannya, “Menghindari terik matahari yang semakin menyengat,” sahutku asal.
Chu hanya bersungut-sungut sambil beranjak pergi. Aku menatapnya nanar. Chu, ia adalah tetanggaku yang tinggal lebih dahulu dari keluargaku. Jangan kaget, Chu berasal dari keluarga semut. Entahlah, hingga detik ini, aku pun masih bertanya mengapa dunia ini bisa dihuni oleh dua makhluk yang berbeda, manusia dan semut. Banyak sejarahwan yang mengatakan bahwa semut bisa hidup bak layaknya manusia normal, diakibatkan oleh ulah ilmuwan sendiri yang mengalami kegagalan dalam penelitiannya.
Lima ratus tahun silam, seperti yang dikatakan banyak sejarahwan dan ilmuwan kelas dunia. Dunia terkena wabah berbahaya, gas kimia yang berasap putih tebal berhembus diseluruh penjuru dunia. Semua semut dengan berbagai spesies di dunia mengalami kepunahan, dan tidak menyisakan sedikit pun serangga dengan jenis semut di dunia ini, akhirnya dua puluh tahun kemudian, seorang ilmuwan sekaligus  peneliti dari Jepang, Mr. Xhin melakukan sebuah eksperimen yang mengejutkan dunia. Ia menyatakan akan membuat semut kembali hidup ditengah-tengah kehidupan manusia. Meskipun, banyak yang menentang dan tidak percaya lagi, setelah percobaannya menghidupkan gajah purba gagal. Ia bersikeras untuk membuktikan hasil dari percobaannya. Benar, lima tahun lebih melakukan usaha yang panjang, semut itu berhasil hidup. Ia mendapat pujian banyak orang. Meskipun, secara logika, struktur badan semut mungil dan sulit untuk memperbaikinya, bahkan memasuki sel-sel kedalam tubuhnya.
Tapi, ia tidak menyadari bahwa ada banyak kesalahan yang telah ia perbuat dan menyebabkan semut itu tumbuh dengan cepat, seperti ukuran manusia. Semut bak manusia itu yang kini dijuluki dengan Ma-Ant (MagicAnt) akhirnya berkembang pesat, dan disaat yang sama empat puluh persen manusia meninggal akibat gas racun yang dihirupnya. Membuat, populasi manusia tercampur dengan populasi semut yang berkembang biak dan hidup seperti manusia. Hal ini juga membuat banyak perselisihan dalam alur kehidupan.
Namun, setidaknya aku masih bersyukur melihat hubungan para manusia dengan Ma-Ant terlihat damai, dan seperti menghargai satu dengan yang lainnya. Meskipun, masih banyak perbedaan yang terlihat jelas dalam sifat, fisik, kebijaksanaan dan hal-hal lainnya. Bahkan, hal inilah yang akan mengancam Bumi dari peradaban dunia.
Aku merasakan dadaku sedikit sesak, mesin tubuhku memberi tahuku bahwa oksigen yang kusimpan akan segera habis. Aku berniat untuk membeli persedian oksigenku jika tidak, aku bisa mati terkapar saat itu juga.
Kuambil tombol kecil berbentuk bulat, sejenis remot yang mengontrol laju XP ini. “XP, menuju apotek,” ujarku terhadap remote control XP-eight. XP-eight melaju dengan kecepatan penuh, menuju apotik penjual oksigen.
Saat ini, oksigen bukan lagi hal gratis yang dihasilkan oleh pohon seperti 1 abad silam. Sebagaimana, buku ensiklopedia yang pernah kubaca, bahwa oksigen itu dihasilkan oleh pepohonan hijau dan gratis. Namun, sangat berbeda dengan zaman sekarang, oksigen didapatkan dengan tarif yang amat mahal, bahkan aku tidak pernah melihat pohon langsung dimasaku ini. Aktivitas tulis menulis dilakukan dengan layar transparan yang akan muncul dihadapan kita apabila kita menghendakinya.
Aku memakirkan XP-eight ku di atas gedung sekolah. Dengan rasa enggan dan malas, aku melangkahkan kakiku menuju kelas. Tanpa harus menggerakan kakiku, Copper Board, sejenis papan kecil melayang kerahku dan mengantarku ke kelas yang ku maksud. Zaman ini, semua manusia dan Ma-Ant berlomba-lomba untuk menyiptakan teknologi yang baru dan canggih, tanpa berpikir bahwa hampir segala alat yang diciptakan itu membuat manusia semakin malas untuk bergerak dan beraktivitas. Ilmuwan dan tokoh besar sekarang, mana ada yang ingin mempedulikan keadaan dan msds depan manusia. Mereka, hanya berlomba-lomba menciptakan tekhnologi canggih untuk kepentingan materi dan ketenaran. Dengan ketamakannya, mereka membuat manusia menjadi makhluk yang malas, kerna hampir setiap pekerjaannya dibantu oleh alat dan tekhnologi yang canggih.
Dikelas, Yhun, si Ma-Ant menyapaku ramah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Pagi-pagi saja sudah malas,” ejeknya sambil berkacak pinggang.
Kelas masih terlihat sepi, hanya ada segelintir manusia dan Ma-Ant yang tampak sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Aku memainkan tablepad-ku dengan asal. Berita hari ini mengabarkan bahwa para Ma-Ant sedang menyimpan persedian makanan di Saturnus. Mereka memprediksi bahwa, tidak lama lagi bumi akan hancur terbakar akibat panas matahari yang semakin tidak kekontrol. Sementara, disaat yang sama para manusia sedang mencari solusi dan menciptakan alat untuk menahan sinar matahari yang masuk ke bumi.
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Masalah bumi semakin rumit, kemungkinan besar perang dunia antara manusia dan Ma-Ant akan kembali terjadi apabila mereka tidak memiliki keputusan yang sama. Manusia yang bersikeras dengan tekhnologi yang sedang dirancang untuk menghadapi bahaya matahari terhadap bumi. Sementara, para Ma-Ant yang menguatkan kerjasamanya dalam penimbunan bahan bakar dan pangan di Saturnus.
“Vi, coba kau perhatikan berita terbaru diacara ‘Hot News’” ujar Yhun serius.
Aku menuruti permintaannya, kualihkan konsentrasiku untuk mendengarkan kabar terbaru pagi ini. Sang pembaca berita menerangkan bahwa matahari mengalami kemajuan beberapa meter mendekati putaran poros bumi. Dengan demikian, ozon buatan tidak dapat lagi menjadi benteng pertahanan bumi. Aku menganga mendengarnya. Jika demikian, langkah apalagi yang akan dilakukan oleh ilmuwan dan peneliti untuk menyelamatkan bumi.
Keadaan kelas menjadi riuh, semua berhamburan. Yhun sedikit geram, saat ia masih melihat diriku masih duduk mematung di tempat. Aku mengernyitkan dahi, menandakan bahwa aku tidak memahami hal yang sedang terjadi. Bumi dan manusia sedang terancam, hanya kata itulah yang masih membekas dalam pikiranku setelah menonton berita terbaru pagi ini.
::::::
Dalam hitungan waktu, panas matahari semakin merajalela. Bersinar tak tentu waktu, membuat orang tersengat panas yang membakar apabila terkena sinar matahari secara langsung. Hari terus bergulir mengikuti zaman yang makin berkembang dengan segala kecanggihan tekhnologinya. Secara berangsung-angsur, para Ma-Ant mengungsi menuju Saturnus dengan pesawat andalannya. Mereka bergotong royong, bahkan saling bahu membahu membawakan barang yang akan dipindahkan ke Saturnus.
Aku sedikit heran melihat pemandangan yang sangat langka ini. dengan mudahnya dan tawa bahagianya, mereka dengan senang hati bergotong royong memindahkan segala barang dan cadangan bahan bakar serta makanannya ke tempat lain. Aku yang menyaksikan pandangan ini terkejut. Manusia saja, tidak akan pernah mau menolong antara satu dengan yang lainnya. Bagaimana para Ma-Ant itu dapat melakukannya dengan semudah itu.
Sementara, disaat yang sama sekolompok manusia dan Ma-Ant sedang mendebatkan solusi dari permasalahan rumit ini. Tak ada seorang pun yang mau mengalah, mereka saling berdebat menyatakan bahwa teknologi hasil temuannyalah yang pantas untuk menyelamatkan bumi. Hingga, pada akhirnya konferensi antar ilmuwan itu tidak menghasilkan sesuatu, justru membuat mereka menyimpan dendam dan rasa iri antara satu dengan yang lainnya. Mereka juga tidak setuju dengan ide para Ma-Ant yang akan memindahkan tempat kehidupan dan peradaban.
Tak lama, karena perdebatan semakin menjadi. Perang antar manusia dan Ma-Ant pun tak dapat dihindarkan. Mereka berniat menyingkirkan manusia yang telah membuat kekacauan dimuka bumi ini. hari yang ditentukan tiba, berbondong-bondong manusia dan Ma-Ant berhadapan untuk saling membunuh dan memusnahkan para manusia yang masih tersisa di muka Bumi. Mereka menganggap, manusia hanyalah makhluk kecil yang tak berdaya dan menrusak buumi dengan segala ulah dan tingkah laku yang telah mereka lakukan.
Aku berlari sekuat tenaga, mencari tempat perlindungan. Namun, aku hanya bisa pasrah, saat diriku terpojok di sudut gang.
“Liv, bangun! Tuh, kue mu dimakan semut! Makanya, jangan makan sambil tidur,” seseorang menggoyang-goyangkan tubuhku.
Mataku mengerjap-ngerjap, tiba-tiba aku berada di kamar. Mungkinkah, tadi aku pingsan saat diriku akan dibawa oleh Ma-Ant. Tapi ini dimana? Aku memperhatikan keadaan disekelilingku dengan seksama.
Aw! Aku menjerit pelan. Seekor semut merah menggigit lenganku. Aku hendak, mematikannya. Namun, bukankah itu tindakan yang kejam. Bukankah semut memberi banyak pelajran berharga bagi manusia. Untuk tidak tamak, dan egois, untuk selalu membantu dan menyapa antara satu dengan yang lainnya. Makhluk manalagi yang apabila bertemu dengan makhluk sesamanya, menyapa dan berpelukan hangat. Bukankah semut juga salah satu hewan yang keberadaannya sangat dihargai oleh Nabi Sulaiman.
Aku tersenyum sendiri, Milla terlihat bingung dengan tingkah lakuku.
“Kau tahu, aku tak bisa membayangkan saat tekhnologi semakin maju, dan manusia akans emakin malas untuk beranjak dari tempat duduknya. Bahkan, membuat manusia lupa akan fitrah dan tugasnya sebagai Khalifah Bumi,” ujarku bijak.

0 komentar:

Posting Komentar